Jumat, 01 Januari 2010

KAJIAN PERKEMBANGAN BAHASA RUPA DAN MAKNANYA
PADA BUSANA ADAT BUNDO KANDUANG
DAERAH KOTO GADANG KOTA SUMATERA BARAT
(STUDI KASUS : BUSANA ADAT BK DAERAH KOTO GADANG TAHUN 2000)

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
KOMUNIKASI VISUAL
ABTRAKSI
Universitas : Universitas Mercu Buana
Fakultas : Ilmu Komunikasi
Jurusan : Komunikasi Visual
Nama : Mohamad Ismail
Judul : Kajian perkembangan Bahasa Rupa dan Maknanya pada Busana
Adat Bundokanduang daerah Koto Gadang Kota Sumatera barat
(studi kasus : Busana Adat BK daerah Koto Gadang tahun 2000)
Sumatera Barat merupakan daerah yang di dominasi oleh bentang lahan
perbukitan dan pergunungan dengan pengaruh berbagai budaya mulai dari Hindu,
Islam dan Cina, berlatar budaya nelayan dan petani. Lewat kontak (diaspora) budaya
dan politik dengan berbagai bangsa, masyarakat Indonesia memiliki seni tradisi yang
kaya salah satunya adalah busana adat Bundokanduang. Ragam hias Bundokanduang
termasuk busana adat Sumatera barat dan banyak memiliki perlambangan dan juga
memiliki filosofi yang sangat tinggi.
Samudera hindia sebagai daerah terdekat ikut menyumbangkan dalam
pembentukan budaya kota Sumatera barat, lewat hubungan dagang dan politik.
Budaya Minang itu sendiri terbentuk lewat akulturasi budaya lokal, Hindu, Islam dan
Cina dengan latar seni istana serta memiliki komunitas masyarakat Hibriditas budaya.
Pengaruh budaya busana adat tahun 2000 yang datang langsung ke masyarakat global
lewat perdagangan maupun lewat jalur media tampak terlihat dari warna.
Cina yang datang langsung ke Sumatera barat lewat perdagangan maupun
lewat jalur Samudra Hindia dapat dilihat dari penggunaan motif-motif simbolis Cina
seperti funiks, kilin, banji, meander, dimana dalam prosesnya motif Cina tidak ditiru
begitu saja tapi diolah ke dalam nilai-nilai lokal konvensi masyarakat Sumatera barat
sehingga menghasilkan berbagai perubahan bentuk. Kedatangan barang-barang
keramik dan kain sutera dimana terdapat kesamaan ragam hias dan warna dengan
motif busana adat bundokanduang kota Sumatera barat.


 7
KATA PENGANTAR
Skripsi ini sebagai pengembangan proses mempelajari semiotika.
Pembelajaran ini tak hadir dalam kesendirian, kekosongan, ketertenggelaman dalam
rutinitas atau keterbenaman dalam tekstualitas semata; mempelajari ini tak lepas dari
kehadiran sosok-sosok luar biasa yang dipertemukan oleh semesta dengan diri saya.
Sosok-sosok ini begitu berperan dalam perjalanan belajar saya; mereka adalah orangorang
yang telah ikut berproses dan berkontribusi bagi pertumbuhan saya. Pada
kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada sosok-sosok luar biasa
itu.
Oleh karena itu dengan kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua penulis tercinta, Bapak Moch. Sidik dan Ibunda Yus
Nawizar, serta abang dan adik-adikku yang selalu sabar dan penuh kasih
sayang dalam memberikan dorongan serta do’anya untuk keberhasilan penulis
baik dalam penulisan skripsi ini.
2. Ibu Ranti Mardianti, M.Sn, M.Ds, selaku pembimbing I yang dimasa saya
mengerjakan skripsi membekali cara melihat logika permasalahan, berteori,
dan cara menuangkan dalam penulisan; semua banyak memberi kontribusi
bagi pengembangan keilmuan dan kemampuan menulis saya.
3. Bapak Yuka.D.Narendra,S.Sn,M.Hum, selaku pembimbing II yang dimasa
saya mengerjakan skripsi membekali cara melihat logika permasalahan,


 8
berteori, dan cara menuangkan dalam penulisan; semua banyak memberi
kontribusi bagi pengembangan keilmuan dan kemampuan menulis saya.
4. Ibu Nurprapti W.Widyastuti, S.Sos,M.Si selaku kepala program studi
Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana atas
dorongan, masukan serta nasehatnya kepada penulis.
5. Bapak Farid Hamid S.Sos, M.Si selaku pembimbing ke III dan Morrisan, SH,
MA selaku penguji Ahli terima kasih atas Ilmu dan bimbingannya selama ini.
6. Untuk Lusi yang banyak memberikan dukungan untuk membantu penulisan
dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini dan rekan-rekan yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.
7. Kawan-kawan yang baik hati seperti Taufik, Novi, Fadillah yang telah banyak
membantu baik moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan
penulisan skripsi ini.
8. Keluarga besar UKPM ORIENTASI Universitas Mercu Buana atas setiap
untaian do’a pada kalian Anie, Uchi, Tika, Ferdinan, dan adik-adikku Ulfa,
Ferni, Aris, Wahyu, Rizal dkk
9. Keluarga besar Paguyuban Mahasiswa Minang (PMM) jakarta, saudaraku
Aldo yang telah banyak memberi kontribusi dalam membangun semangat
persatuan untuk menyelesaikan proyek skripsi ini.
10. Keluarga besar UKM Theater AMOEBA Universitas Mercu Buana atas setiap
dukungan pada kalian Aries.S.Romaini,Abid dan Adik-adikku dkk.
11. Kawan-kawan Forum Pers Mahasiswa se-Jabotabek (FPMJ) yang membekali
cara berorganisasi di setiap wilayah.


 9
12. Komunitas Taman Hati membekali cara melihat logika permasalahan,
berdiskusi, berteori, dan cara menuangkan dalam penulisan; semua banyak
memberi kontribusi bagi pengembangan keilmuan dan kemampuan menulis
saya.
13. Seluruh sahabat penulis di Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Komunikasi
Visual angkatan 2005 dan teman-teman di Unversitas Mercu Buana.
Dengan kehadiran berbagi pihak tersebut, maka perjalanan saya hingga terbit
buku ini adalah sebuah penanda yang merujuk pada makna bahwa pertemuanpertemuan
dan kejadian dalam hidup bukanlah kebetulan semata, buku ini adalah
patronus yang muncul dari akumulasi pertemuan-pertemuan dengan sosok-sosok luar
biasa dalam hidup saya.
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan proyek tugas
akhir ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak akan penulis terima sebagai
bahan untuk meningkatkan keterampilan dan menambah pemahaman dalam bidang
akuntansi. Semoga laporan proyak tugas akhir ini memberi manfaat khususnya bagi
penulis.
Jakarta, 12 Maret 2009
( MOHAMAD ISMAIL )


 10
RENCANA DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................................... i
LEMBAR TANDA LULUS ..................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .............................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iv
ABSTRAKSI ............................................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................ 6
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Singkat Bundo Kandung
2.1.1 Penyebaran dan penaburan kebudayaan Diaspora …………..…. 12
2.1.2 Pengertian Busana Adat................................................................ 15
2.1.3 Fungsi dan posisi busana adat dalam kebudayaan secara umum. 20
2.2 Bundo kanduang sebagai artefak kebudayaan minang
2.2.1 Budaya masyarakat koto gadang.................................................. 26
2.2.2 Bahasa rupa busana adat Bundo kanduang ................................. 33
2.2.3 Modernisasi dan Akulturasi ......................................................... 36


 11
2.3 Makna dan Bahasa Rupa
2.3.1 Makna dan Unsur-unsurnya ......................................................... 40
2.3.2 Mengkaji makna dan bahasa rupa dengan semiotika .................. 40
2.3.3 Semiotika ..................................................................................... 42
2.3.4 Semiotika Ferdinand Saussure ..................................................... 47
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitiaan ........................................................................... 49
3.2 Metode Penelitian ........................................................................ 50
3.3 Unit Analisis ................................................................................ 51
3.4 Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 52
3.5 Teknis analis data ......................................................................... 54
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Upacara adat ……………………………………….......................... 58
4.1.1 Tata cara busana Bundo kanduang .............................................. 59
4.2 Budaya adat manusia millennium ……………………………..…… 62
4.3 Analisa Semiotika .............................................................................. 65
4.3.1 Bahasa rupa pada suntiang bundokanduang tahun 2000 ............. 74
4.3.2 Bahasa rupa pada baju kurung tahun 2000 .................................. 77
4.3.3 Bahasa Rupa pada Selendang ...................................................... 83

 12
4.3.4 Bahasa rupa pada kain sarung (kodek) ........................................ 86
4.3.5 Bahasa rupa pada kalung perhiasan ............................................. 90
4.3.6 Bahasa rupa pada perhiasan pada galang.(gelang) ...................... 94
4.3.7 Bahasa rupa pada cincin ……………….………….…………… 97
4.4 Analisa Klasifikasi Tanda Pakaian Busana Adat Bundokanduang .. 103
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ...................................................................................... 111
5.2 Saran ................................................................................................ 113
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 114
TENTANG PENULIS ............................................................................................. 115

 13
DAFTAR TABEL GAMBAR
1. Gambar 2.1 Busana Adat Bundokanduang …………..…………………….. 34
2. Gambar 4.1 Budaya Adat Global Pada Tahun 2000 …..…………………… 62
3. Gambar 4.2 Budaya Adat Global Pada Tahun 2000 ……..………………… 63
4. Gambar 4.3 Busana Adat Tahun 2000 ……..………………………………. 65
5. Gambar 4.4 Suntiang Bundokanduang 2000 ………..……………………... 74
6. Gambar 4.5 (a) Pernik Rumah Gadang ……………..……………………… 75
7. Gambar 4.6 (b) Pernik Suntiang Gadang ………………..…………………. 76
8. Gambar 4.7 (c) Pernik Suntiang Gadang …………..………………………. 77
9. Gambar 4.8 Baju Kurung Tahun 2000 …………..……………………...…. 77
10. Gambar 4.9 Motif Pada Bagian Bawah Baju Kurung Adat Minang ..……. 79
11. Gambar 4.10 Motif Busana Adat Baju Kurung Siriah Gadang ………......... 81
12. Gambar 4.11 Motif Pada Bagian Tengah Busana Adat Baju Kurung ..……. 83
13. Gambar 4.12 Motif Pada Bagian Lengan Busana Adat Baju Kurung ….….. 84
14. Gambar 4.13 Selendang Bundokanduang …..………………………..……. 85
15. Gambar 4.14 Motif Selendang Pada Bagian Ujung Busana Adat….………. 85
16. Gambar 4.15 Motif Selendang Pada Bagian Tengah ………….…………... 87
17. Gambar 4.16 Kain Sarung (Kodek) ………….……………….……………. 89
18. Gambar 4.17 Kain Sarung Motif Taji Siarek …….……………………….. 90
19. Gambar 4.18 Kain Sarung Motif Bada Mudiak ………………………..…... 91
20. Gambar 4.19 Motif Pada Bagian Tengah Kain Sarung ………………….... 92
21. Gambar 4.20 Perhiasan Kalung Bundo Kanduang ………………………... 93
22. Gambar 4.21 Bentuk Perhiasan Kalung …………………………………... 94
23. Gambar 4.22 Motif Hias Bunga Teratai pada Perhiasan Kalung ……….… 95
24. Gambar 4.23 Perhiasan Kalung Rumah Gadang ……………………….…. 96
25. Gambar 4.24 Motif Perhiasan Kalung Pada Bagian Tengah ……………..... 97
26. Gambar 4.25 Motif Bahasa Rupa Pada Bagian Tepi Kalung …………..….. 98
27. Gambar 4.26 Perhiasan Galang Gadang …………………………...………. 99

 14
28. Gambar 4.27 Motif Pada Tepi Galang Gadang …………………….…… 100
29. Gambar 4.28 Motif Pada Tengah Galang Gadang ……………………… 101
30. Gambar 4.29 Bahasa Rupa Pada Cincin ………………………………… 102
Analisa Klasifikasi Tanda :
31. Gambar 4.30 Pakaian Busana Adat Bundokanduang ……………….…… 103
32. Gambar 4.31 Bahasa Rupa pada Suntiang Bundokanduang 2000 ….……. 104
33. Gambar 4.32 Bahasa Rupa pada Baju Kurung Tahun 2000 …………….. 105
34. Gambar 4.33 Bahasa rupa pada Selendang……………………………… 106
35. Gambar 4.34 Bahasa Rupa Pada Kain Sarung …………………………... 107
36. Gambar 4.35 Bahasa Rupa Pada Kalung Perhiasan ………………………108
37. Gambar 4.36 Perhiasan Kalung Minang ………………………………… 109
38. Gambar 4.37 Bahasa Rupa Pada Perhiasan Gelang ……………………... 110











 15
DAFTAR TABEL

1. Table 4.1 Pakaian Busana Adat Bundokanduang ………..……………… 103
2. Table 4.2 Suntiang Bundokanduang 2000 …………..…………………... 104
3. Table 4.3 Baju Kurung Tahun 2000 ……………..…………………........ 105
4. Table 4.4 Selendang Bundokanduang .………………..………………… 106
5. Table 4.5 Kain Sarung (Kodek) ...………………..……………………… 107
6. Table 4.6 Perhiasan Kalung Bundo Kanduang .…………..…………….. 108
7. Table 4.7 Perhiasan Kalung Minang Bundo Kanduang ……..…………. 109
8. Tabel 4.8 Perhiasan Galang Gadang ………………………..…………... 110
9. Tabel 4.9 Perkembangan Bahasa Rupa Antara pra-Modern, Modern, dan
Posmodern ……………………………………………..…………………. 110


1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dilihat dari segi kebudayaan, perkembangan busana adat tidak lain adalah
usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Menciptakan
lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan kemudahan atau fasilitas agar
kehidupan itu lebih nikmat. Perkembangan busana adat adalah suatu intervensi
manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan alam fisik, maupun
lingkungan sosial budaya.
Perkembangan busana adat membawa perubahan dalam diri manusia,
masyarakat dan lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju perkembangan busana
adat pada tahun 2000, terjadi pula dinamika masyarakat agar terlihat beda dengan
sebelumnya. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada.
Hingga, terjadilah pergeseran sistim nilai budaya yang membawa perubahan pula
dalam hubungan interaksi manusia dalam masyarakatnya.
Diakui secara umum bahwa kebudayaan busana adat merupakan unsur
penting dalam proses perkembangan suatu daerah. Lebih-lebih jika masyarakat itu
sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang serasi dengan tantangan
zamannya. Hal itu berarti menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan kepribadian
utuh dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Sistem berpakaian pada busana adat minang dan penggunaan keragaman
 2
bentuk perhiasan yang digunakan dalam berpakaian di setiap, suku, sampai kepada
kelompok masyarakat terkecil memiliki perbedaan dasar pemikiran yang terungkap
melalui gerak laku, karya, sebagai cerminan dalam sebuah kebudayaan.
Koentjaraningrat 1 menjelaskan bahwa, Kebudayaan itu mempunyai paling sedikit
tiga wujud, yaitu (1) wujud kebudayaan sebagai suatu komplek dari ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, peraturan dan sebagainya.(2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks
aktivitas berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) wujud kebudayaan sebagai
benda-benda hasil karya manusia.
Wujud benda sebagai karya berhubungan dengan berbagai kebutuhan
manusia. Salah satu wujud benda yang merupakan kebutuhan utama bagi manusia
adalah pakaian, karena selain untuk melindungi tubuh dari berbagai kemungkinan,
maka ia juga merupakan cerminan dari nilai-nilai budaya serta perilaku masyarakat
pemakainya. Disamping itu benda-benda tersebut memiliki muatan perlambanganperlambangan
yang berhubungan erat dengan sistem kepercayaan. Cassirer 4
mengatakan bahwa: Setiap karya manusia lahir dalam kondisi historis dan kondisi
sosial tertentu. Tetapi kita takkan pernah mengerti kondisi-kondisi spesial tanpa
menangkap prinsip-prinsip struktur umum yang ada dibalik karya-karya itu. Dalam
telah kita tentang bahasa, kesenian dan mitos, masalah makna lebih penting dari pada
masalah perkembangan sejarahnya.
Pada masyarakat Minang kabau, pakaian merupakan suatu benda yang
memiliki makna-makna dengan filosofi tertentu sesuai dengan status sosial dari indiv-
1
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa Balai Pustaka, Jakarta, 1993, hlm. 5
2 Ernst Cassirer.. Manusia dan Kebudayaan Sebuah Essai Tentang Manusia. Jakarta: PT. Gramedia, 1987, hlm. 104
 3
idu yang memakainya, seperti pakaian yang dipakai oleh para pemangku adat. Dari
beberapa pakaian pemangku adat di Minang kabau salah satunya adalah Pakaian
Bundo Kanduang . Bundo Kanduang merupakan sebutan khusus yang ditujukan
tehadap kaum perempuan dalam tatanan adat Minang kabau.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa makna busana adat
Bundo Kanduang memiliki keterkaitan erat dengan tatanan budaya masyarakat adat
Minangkabau. Seperti yang dijelaskan Yasraf 5 bahwa, satu totalitas yang kompleks
dapat dilihat sebagai satu perangkat unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lain.
Sebuah unsur hanya bermakna ketika ia dikaitkan dengan perangkat unsur-unsur
secara total. Oleh sebab itu, apa yang ingin disingkap, bukanlah hakikat suatu unsur,
melainkan relasi yang menghubungkan masing-masing unsur.
Maka dengan itu, terlepas dari makna khusus dan keistimewaan bahasa rupa
yang dimiliki, busana Bundo Kanduang menarik dan layak untuk dipelajari dari sudut
pandang ilmu tentang semiotika. Di dalamnya mengandung nasehat-nasehat,
kebijaksanaan, dan pesan tentang kehidupan manusia. Terutama bagi yang
mengenakan baju kebesaran akan mengikat dalam membangun keluarga. Busana adat
mengandung filosofi, karakter, dan pola pikir masyarakat Minang dalam memaknai
sebuah peristiwa daur hidup. Pernikahan merupakan ritual penting bagi masyarakat
Minang, karena memiliki posisi sebagai awal kelahiran (bayi) dan pemakaian
pembesar adat.
5 Piliang, Yasraf Amir. Hiper-Realitas Kebudayaan. Yogyakarta: LkiS, l999, hlm. 116
 4
Busana adat atau pakaian adalah kulit luar yang mampu menunjukkan
identitas individu atau kelompok. Busana dapat menutupi kekurangan seseorang
dalam berbagai hal sehingga tampak setara dengan kelas tertentu dan menjadi
transportasi efektif bagi pihak-pihak yang menginginkan status diakui sebagai orang
terhormat serta alat untuk menggolongkan masyarakat sebagai golongan elit atau
golongan sulit (secara ekonomi). Selain cermin identitas, status, dan hierarki juga
menunjukkan gender, memiliki nilai simbolik, ekspresi gaya hidup tertentu,
mencerminkan sejarah, hubungan kekuasaan, serta perbedaan dalam pandangan
sosial, politik dan religius
Sebagai seorang pemakai busana kebesaran pemimpin adat, Bundo Kanduang
memiliki pakaian khusus yang di sebut dengan Pakaian Bundo Kanduang. Yang
paling menunjang terhadap keunikan pakaian ini adalah kelengkapan perhiasan atau
aksesoris yang digunakan oleh Bundo Kanduang. Hingga, perkembangan budaya
Minang kabau tidak terlepas dari sejarah masuknya pengaruh-pengaruh budaya luar
yang telah ikut mempengaruhi adat dan seni kreasi para seniman pekria Minang
kabau. Penyebaran, kedatangan dan kolonialisme bangsa lain memperlihatkan
masing-masing pengaruhnya melalui wujud ornamentik seperti jenis tumbuhan,
hewan, manusia dan geometris. Masuknya pengaruh islam di alam ini adalah sangat
dominan dan banyak sekali dijumpai pada motif hias tekstil; dengan bentuk motif
yang bersifat geometris atau dominasi bentuk tanaman. Manusia dan binatang sebagai
sumber obyek bahasa rupa diolah menjadi sandi-sandi yang abstrak.
Namun, kewajiban paling utama bagi Bundo Kanduang di Minang kabau
adalah memelihara anak dan kemenakan, yakni anak-anak dari saudara perempuan
 5
suaminya. Memelihara anak dan kemenakan mempunyai ruang lingkup yang luas,
yang pada pokoknya menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang mungkar
atau jahat. Sebagai ibu mempunyai tugas merawat, membimbing, mendidik anakanaknya
sedangkan terhadap kemenakannya berkewajiban membimbing; memberi
bantuan serta memperhatikan pendidikannya.
Pemahaman permasalahan tersebut menyadarkan adanya tanda dari
kebudayaan yang tidak hanya sebagai akibat dari kegiatan interaksi masyarakat
dengan masyarakat lain atau masyarakat dalam institusi sosial. Tetapi kebudayaan
dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang akan membentuk cara berfikir dan
bertingkah laku, yang pada tataran realitas material akan nampak berbagai bentuk
variasi, tetapi pada kenyataan struktur bathiniah akan menunjukkan suatu kesamaan
pandangan serta kepribadian yang disimboliskan. Seperti yang nampak pada bahasa
rupa busana adat Bundo Kanduang klasik pada busana adat Minang secara material
kelihatan bervariasi bentuknya, tetapi secara struktural bathiniah dibentuk oleh
adanya simbolisme dari kepribadian masyarakat Minang dan khususnya adat istiadat
Sumatera Barat.
Hingga, di dalam gagasan kebudayaan dan bahasa rupa unit analisa atau
obyek dari kajiannya dapat dikategorikan, yaitu bahasa rupa yang terdiri atas tandatanda
visual sebagai representasi makna bahasa atau perilaku pada umumnya Baik
artefak, bahasa rupa, maupun periaku manusia memperlihatkan tata susunan atau pola
keteraturan tertentu yang dijadikan dasar untuk memperlakukan hal-hal itu sebagai
data yang bermakna, karena merupakan hasil kegiatan manusia sebagai mahluk yang
 6
terikat pada kelompok atau kolektiva, dan karena keterikatan itu mewujudkan
kebermaknaan.
Hingga dari beberapa uraian penjelasan di atas, Sistem Matriarkal ini
memegang peranan penting dalam adat dan budaya Minang kabau, mengingat
matriarkal merupakan roh dalam kehidupan masyarakat Minang dan matriarkal
merupakan pilar utama identitas Minang kabau hingga akhir zaman. Matriarkal
adalah bagian dari adat dalam berbagai penghormatan yang bibentuk oleh nenek
moyang kita yang harus dipegang dan dipertahankan walaupun zaman berubah dalam
perkembangannya. Namun, kelestarian kebudayaan ini harus kita jadikan acuan
hidup.
Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk mengetengahkan judul “KAJIAN
PERKEMBANGAN BAHASA RUPA DAN MAKNANYA PADA BUSANA
ADAT BUNDO KANDUANG DAERAH KOTO GADANG KOTA SUMATRA
BARAT”(studi kasus : Busana adat BK daerah koto gadang tahun 2000), karena
termotivasi oleh keinginan untuk lebih mengetahui, mendalami dan
mensosialisasikan kebudayaan sumatra barat.
1.2 Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari pembatasan masalah yang telah dikemukan tersebut diatas,
sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan perumusan masalah yaitu:
Bagaimana kajian perkembangan Bahasa rupa dan Maknanya pada busana
adat Bundo Kanduang daerah Koto gadang Sumatera barat ?
 7
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif yang mendeskripsikan (menggambarkan)
kenyataan yang ada dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan
hubungan antara bahasa rupa dan makna busana adat Bundo kanduang daerah koto
gadang kota Sumatera Barat. Permasalahan dibatasi pada perbedaan dan kesamaan
poin penamaan, struktur motif menurut penempatan dan perulangan posisi dan pola
motif. Untuk melihat perkembangan dan pembuktian, diperlukan bandingan antara
pakaian busana Bundo kanduang lama dan baru di setiap resesi pernikahan adat
Minangkabau dan daerah penelitian.
a. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui gambaran perkembangan yang terjadi pada bahas
rupa dan makna busana adat minang kabau, Nagari koto gadang,
berkaitan dengan perubahan desain suntiang, kodek dan kain-kainnya.
2. Untuk mengungkapkan, mendeskripsikan, menganalisa,
mensosialisasikan dan mendokumentasikan gambaran umum pada
perkembangan bahasa rupa dan makna rupa busana adat bundo
kanduang.
3. Untuk mengetahui nilai fungsi, ciri estetik dan simbolik pada makna
dan bahasa rupa pada busana adat.
b. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Akademik
Sebagai masukan yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
penelitian serta diharapkan akan bermanfaat untuk memberikan
 8
sumbangan pemikiran bagi pihak akademik yang merasa tertarikdalam
permasalahan yang dibuat oleh penulis.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat digunakan sebagai referensi oleh pihak lain yang
berkepentingan baik untuk membuat penelitian yang sejenis maupun
sebagai pengambilan keputusan di bidang ini.
 9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Singkat Bundokandung
Sumatera Barat secara kultural dikenal dengan sebutan Minangkabau. Seni
dan budaya pada tiap daerah di Sumatera Barat mempunyai keunikan dan ciri khas
tersendiri. Keunikan dan ciri khas tiap daerah memperkaya khasanah kebudayaan seni
dan budaya Minang kabau serta merupakan potensi yang luar biasa dalam
perkembangan kebudayaan seni dan budaya Minangkabau secara keseluruhan.
Sumatera Barat di Daerah Koto Gadang termasuk kawasan yang subur di
Indonesia, dikelilingi oleh dua gunung, yakni gunung Merapi dan gunung
Singgalang. Kawasan ini disebut dengan darek (darat) yaitu dataran tinggi dibagian
perdalaman, merupakan tempat asal orang Minangkabau. Minangkabau merupakan
salah satu daerah budaya di Indonesia yang didiami oleh masyarakat yang dikenal
dengan suku bangsa (etnis). Minangkabau, terkenal dengan ciri sosial masyarakat,
yaitu taat kepada agama Islam, berpegang kuat kepada sistem kekeluargaan garis ibu
(matrinial), dan berkecenderungan untuk merantau
Historiografi dan etnografi adat Minangkabau selalu menekankan bahwa
nagari adalah kesatuan sosial utama yang dominan yang menjadi ciri khas
masyarakat Minangkabau. Dahulu nagari merupakan kesatuan masyarakat adat yang
otonom merupakan republik mini territorial yang mempunyai pemerintahan sendiri,
serta mempunyai adat sendiri yang mengatur tata kehidupan masyarakat. Tiap-tiap
 10
wilayah nagari mempunyai perbedaan meliputi pengalaman dan penfsiran adat dari
kawasan yang satu dengan kawasan yang lain, mencakupi pakaian adat, bentuk rumah
gadang, upacara-upacara, bahasa yang digunakan (segi infleksi atau nada suara, logat,
dan kadang-kadang istilah), serta organisasi sosial dalam nagari.6
Dalam adat istiadat Minangkabau, Bundo Kanduang adalah nama seorang
tokoh wanita yang menurunkan raja-raja Minangkabau, berkedudukan di Istana
Pagaruyung. Dalam perkembangan selanjutnya, Bundo Kanduang atau Bunda
Kandung menjadi istilah yang berarti ibu sejati yang memiliki sifat-sifat keibuan dan
kepemimpinan. Menurut adat Minangkabau ibu adalah tempat menarik tali turunan
yang disebut matrilineal. Hal ini mengandung makna agar manusia yang dilahirkan
oleh kaum ibu terutama laki-laki, menghormati dan memuliakan ibu tanpa pandang
bulu. Kedudukan wanita mendapat tempat yang sangat mulia dan terhormat, dilihat
dari ciri khas adat Minangkabau yang diperlakukan kepada wanita antar lain: jika
seorang ibu bersuku Koto, maka anak yang dilahirkan baik laki-laki maupun
perempuan harus besuku Koto sesuai dengan suku ibunya. Demikian pula jika
seorang ibu bersuku Tanjung atau Caniago dan lain-lain, anak-anaknya harus bersuku
sama dengan suku ibunya.
Dari batasan tersebut diatas, Minangkabau menempatkan perempuan
sebagai titik sentral dalam sistem kekerabatan (Matrilinial). Menurut para ahli
antropologi, matrinial adalah sistem tertua dalam patokan garis keturunan,
mendahului sistem patrinial dan parental. Selain Minangkabau, pola kekerabatan
6
Koto, Ysuyoshi. Manyigi and Miigrations. Terjemahan azzizah kasim. Nasap ibu dan Merantau. Kuala Lumpur: Dewan
Pustaka dan Bahasa, 1983, hlm. 43.
 11
yang diurut dari garis ibu ini masih terdapat pada sejumlah suku di India.
Sebagaimana yang ada dalam nilai-nilai adat Minang kabau yang
mengandung ajaran budi perkerti dalam fatwa pepatah sebagai berikut :
Bundo kanduang, Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Hiasan di dalam kampuang
Sumarak dalam banagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banaza
Kalau mati tampek baniaik
Ka unduang-unduang ka Madinah
Ka payuang panji ka sarugo.
(Ibu kandung, tulang punggung keluarga besar Wanita pemegang kunci Hiasan
didalam kampung Semarak dalam bernagari Yang besar tempat bertuah Selagi
hidup tempat bernazar Sesudah mati tempat berniat Sebagai pelindung ke
Madinah Pengganti payung menuju surga) 7
Misi penting dari sistem Matrinial, dengan demikian selain memelihara
ranji atau silsilah keluarga. Sekaligus menjaga tertib hukum waris secara Materi
(pusako), dan non-materi (sako) atau suksesi kepemimpinan. Ibu berarti pemegang
kekuasaan tertinggi dalam suku secara adat, disebut dengan Bundokandung.Sekalipun
dalam fatwa pepatah telah disebutkan betapa seorang ibu memiliki posisi yang kuat,
namun tampaknya hanya sebatas sebutan saja sebab kenyataanya yang berkuasa
adalah saudara laki-laki atau mamak dalam keluarga persukuan.
Soal lain yang juga harus dikemukakan, bahwa sejarah sangat besar
mempengaruhi pembangunan identitas budaya. Melihat sejarah merupakan jalan
terbaik dimana identitas budaya telah dikontruksikan menurut pengertian pada masa
7
K. Idrus Dt. Rajo Penghulu. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Bandung, 1984, hlm. 84
 12
lalu. Karena itu sangatlah mendapat tempat bilamana banyak para pakar menulis
sejarah dalam berbagai dimensi, apalagi kalau objek sejarah itu berada diluar arus
utama (mainstream) sejarah. Dengan mengungkapkan, berbicara, atau menulis adalah
cara selangkah lebih maju untuk mengkontruksikan identitas personal dan budaya.
Sejarah yang belum ditulis pun akan menolong kita bagaimana memahami perilaku
sesuatu budaya ketika berintegrasi pada masa lampau yang masih relevan untuk masa
sekarang.
Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional, yang
penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Apalagi kalau
orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya, seperti penghulu dan
bundo kanduang, seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi
melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang
teguh.
2.1.1 Penyebaran dan penaburan kebudayaan Diaspora
Istilah diaspora (bahasa Yunani kuno , "penyebaran atau
penaburan benih") digunakan untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis
manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air tradisional
mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang
dihasilkan karena penyebaran dan kebudayaan mereka.
Mulanya, istilah Diaspora (dengan huruf besar) digunakan oleh orang-orang
Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah
 13
jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam
kerajaan.
Bidang akademik dari studi diaspora terbentuk pada akhir abad ke-20,
khususnya telah terjadi krisis pengungsi etinis besar-besaran, karena pertentang
antara paham lama dan baru merupakan suatu proses yang telah lama berlangsung
dalam masyarakat minang kabau. Perang padri di Minang kabau pada permulaan
abad ke-19 pada mulanya berupa pertentangan kaum lama dan baru, yang kemudian
menjelma menjadi persoalan politik.
Perkenalan dengan hal-hal yang terbawa oleh kebudayaan barat dan
pendidikan belanda lebih memperhebat tantangan terhadap sistem Minang kabau tadi,
salah satu sifat yang penting dari pendidikan yang dibawa oleh belanda adalah
pendidikan yang berpusat di kota, karena orang Minang kabau yang pergi kekota
untuk sekolah, lepas dari kehidupan tradisional.
Persoalan perantau (modern) bukan lagi persoalan baru pada masyarakat
Minang, dan kemajuan pendidikan sebagai salah satu aspek dari modern ini, adalah
salah satu hal yang sudah sejak lama berlangsung pada masyarakat Minangkabau,
namun sebagai juga dengan kebanyakan tempat di Indonesia, kemajuan pendidikan
telah menyebabkan urbanisasi, yang di Minangkabau mengambil bentuk “perantau”
banyak putra Minangkabau pergi ke Jawa, dan terutama ke Jakarta untuk menetap. Ini
adalah suatu persoalan yang hebat dalam rangka pembangunan daerah Minangkabau.
 14
a. Hibriditas kebudayaan Minang
Bundokanduang mengalami perkembangan pesat sejak dekade 30-an, baik
dari segi kuantitas pemakai maupun ragam hias busana yang tercipta, bahkan
penyelenggaraan pergelaran ragam hias Bundokanduang juga telah sering dilakukan
pada periode ini. Busana adat kemudian menjadi bagian dari dunia fashion Indonesia
yang juga mengikuti kecenderungan sebagaimana yang terdapat dalam gaya busana
umum, yaitu berada di antara pengaruh dari budaya global (khususnya gaya Barat)
dan budaya lokal (tradisional). Dialektika yang terjadi antara budaya global, budaya
lokal dan prinsip-prinsip penggunaan busana adat menghasilkan fenomena hibriditas
dalam gaya ragam hias Bundokanduang.
Hibriditas merupakan perpaduan berbagai sistem atau budaya dalam satu
ungkapan tertentu. Dalam konteks ragam hias busana adat, hibriditas busana adat
merupakan penggabungan elemen-elemen budaya yang berasal dari dua sistem
budaya atau lebih (baik sistem atau budaya yang berada dalam kategori oposisi biner
maupun tidak) dalam satu karya busana adat, sebagai akibat proses interpretasi ulang
pada suatu batasan tertentu yang ada sebelumnya, di mana elemen-elemen bahasa
rupa tersebut digabung dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan
bentukan busana adat yang baru, yang tidak didapati pada masing-masing referensi
asalnya.
 15
2.1.2 Pengertian Busana Adat
Pengertian busana adat adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara
pelaminan, menjemput pengantin (majampui marapulai), perkawinan, dan pakaian
penghulu. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut
busana adat, yang khusus dikenakan para pemuka adat maupun bangsawan. Jenis
busana adat ini dibedakan atas busana bundo kanduang, baju penghulu, dan busana
marapulai. Rangkaian busana bundo kanduang terdiri dari tengkuluk tanduk
bentuknya menyerupai tanduk kerbau dengan hiasan berumbai dari emas, suntiang
gadang, baju kurung, kalung yang berbagai macam, gelang, kain sarung atau kodek
dan selendang. Busana ini lazim dikenakan dalam upacara perkawinan.
Dalam masyarakat Minangkabau nilai keindahan pakaian terangkum
dalam petatah-petitih yaitu beberapa ungkapan yang memberi gambaran tentang
gejala keindahan menurut pandangan hidup masyarakat Minangkabau. Seperti yang
dijelaskan oleh Ibenzani Usman bahwa, ada empat unsur pokok sebagai dasar dari
pembentukan konsep estetika busana adat Minangkabau, yaitu 8
1.) Pandangan hidup yang berorientasi kepada alam, dalam pengertian ‘alam
takambang jadikan guru’ (alam terkembang jadikan guru), yang
mencerminkan unsur nilai dan unsur wujud;
2.) Trilogi penalaran yang terhimpun dalam ‘tungku nan tigo sajarangan’
(tungku yang tiga sejerangan) yakni; alua jo patuik (alur dengan patut),
raso jo pareso (rasa dengan periksa), dan ukua jo jangko (ukur dengan
8 Ibenzani Usman , Ibid, 1991, hlm. 23,
 16
jangka) yang merupakan norma-norma dan kriteria dalam pembentukan
dan penilaian karya seni.
3.) Prinsip adat dalam bentuk ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’
(adat bersendikan syari’ at, syari’ at bersendikan kitabullah), dan
4.) Perihal bahan, alat, dan cara menggunakannya yang dapat ditarik dari
ungkapan petatah-petitih. Keempat unsur tersebut menggambarkan proses
kreasi, sekaligus menjelaskan eratnya keterkaitan hubungan bentuk dan isi,
sehingga semua unsur-unsur yang saling menunjang menjadi dasar konsep
estetika Minangkabau.
Sesuai dengan tugas ibu sebagai pengantara keturunan dan mendidik anak-anak
yang dilahirkannya, menurut adat Minangkabau seorang ibu harus memiliki sifat
kepemimpinan dan ibu sejati. Hal ini penting karena ibu tempat bertanya, ditiru dan
menjadi teladan lingkungan keluarganya. Sifat yang harus dimiliki oleh Bundo
Kanduang tidak jauh berbeda dengan sifat pemimpin adat Minangkabau atau
penghulu, antara lain :
1. Dalam pergaulan sehari-hari Bundo Kanduang harus mencerminkan sifatsifat
baik dalam berkata-kata bertingkah laku serta benar dalam perbuatan.
Dia harus menjauhi sifat pendusta, sebaliknya selalu berpihak dan
menegakkan kebenaran.
2. Mendidik lingkungannya dengan memberi contoh, perbuatan yang jujur,
baik dalam berkata-kata, berbicara maupun bertindak.
3. Dapat mengetahui dan membedakan hal yang benar dan yang salah,
mengetahui untung rugi pada waktu akan melakukan pekerjaan dan
 17
mengambil suatu keputusan. Oleh karenanya seorang ibu harus mempunyai
pengetahuan, sekurang-kurangnya pengetahuan tentang agama, pendidikan
maupun bidang kewanitaan yang sangat berguna dalam berumahtangga.
Untuk mengikuti pergaulan di lingkungan kampung dan nagarinya perlu
juga mempunyai pengetahuan tentang adat dan situasi nagarinya.
4. Menurut adat Minangkabau seorang wanita harus pandai berbicara dalam
arif fasih mengucapkan kata-kata dan enak didengar. Kepandaian berbicara
atau berkata-kata ini sangat perlu bagi pendidikan di dalam rumah tangga,
keluarga maupun di lingkungan kaumnya karena merupakan sarana untuk
memberikan bimbingan kepada masyarakat, terutama bagi sesama kaum
wanita dan anak-anak.
5. Mempunyai sifat rasa malu dalam dirinya sehingga akan mencegah
perbuatan yang melanggar adat dan menyimpang dari hukum yang berlaku.
Rasa malu merupakan benteng bagi wanita karena dapat menjauhkan sifat
dan perbuatan tercela. Menurut adat Minangkabau sifat malu merupakan
peran utama dalam kehidupan kaum wanita. Sebaliknya jika kehilangan
rasa malu akan membahayakan kehidupan rumah tangga, bahkan
membahayakan masyarakat.
Nilai operasional menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan
corak kehidupan masyarakat Minangkabau. Sementara prinsip kebenaran, keadilan
dan kebajikan menjadi semangat dan jiwa dalam segala tindakan, sikap dan watak
orang Minangkabau. Watak dan sikap tersebut diungkapkan dalam ”hiduik baraka,
mati bariman”. Hidup berakal bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa
 18
pertimbangan akal. Ikatan antara ’ raso’ -rasa- yang timbul dari ’pareso’ - hati nuranimelahirkan
ketajaman pikiran, keseimbangan hakiki yang ingin dicapai oleh insan
Minangkabau dalam mengembalikan harkat dan martabat melalui akal dan budi.
a. Hakekat Budaya
Kedudukan manusia dalam kebudayaan adalah sentral, bukan manusia
sebagai orang, melainkan sebagai pribadi. Kepada segala kegiatan diarahkan sebagai
tujuan. Dari kegiatan budaya berasal sebagai pencipta. Untuk menghindari segala
salah faham, kebudayaan harus dibedakan dengan agama. Sebenarnya agama sejauh
melingkupi usaha manusia termasuk syarat-syarat kebudayaan, tetapi kebudayaan itu
adalah sesuatu yang spesifik insani, realisasi dari bawah, bukan rahmat dari atas.
Sejauh manakah permenungan hakekat kabudayaan dari pater jan bakker ini
berbeda dengan hakekat kebudayaan yang dijauhkan oleh ahli antropologi? Sebagai
bahan perbandingan saya akan menguraikan dengan singkat pendapat beals dan
Hoijer tentang hakekat kebudayan yang terdapat dalam buku mereka (1959). Di situ
dikatakan bahwa sewaktu lahirnya manusia masih berupa makhluk yang tidak
berdaya sama sekali . Dia harus dirawat, dipelihara dengan baik dan diajari berbagai
cara bertindak, seperti makan, berjalan, berbicara, membaca, berdoa dan sebagainya,
agar nantinya dia mampu bertahan hidup serta bergaul dengan warga masyarakat
lainnya. Pada masa kanak-kanak inilah dia harus belajar tarus-menerus, bahkan
sampai saat dia menginjak usia dewasa dan tua dia tidak pernah berhenti belajar.
Dalam peroses ini manusia menggunakan berbagai macam simbol, dan inilah yang
membedakan proses belajar manusia dengan binatang. Manusia menciptakan serta
memanfaatkan simbol-simbol.
 19
b. Busana Adat sebagai wujud fisik kebudayaan
Pakaian adat tradisional masyarakat Sumatera Barat terdiri dari
seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu
dengan lainnya. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi
identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. Oleh karena itu, cara
berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat, kapan dikenakan, di mana
dikenakan, dan siapa yang mengenakannya.
Sejalan dengan perkembangan zaman, pakaian resmi semacam itu lama
kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. Misalnya pada masa penjajahan
Jepang (1942 - 1945), yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan
kacau, kemudian disusul dengan masa kemerdekaan, pakaian atau busana menurut
kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi, dan yang pada gilirannya jarang dijumpai
lagi. Namun demikian, pakaian adat tradisional Minang yang sempat dikenal di
kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa.
Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas
Sumatera barat.dalam perkembangan selanjutnya, pakaian ini diterima di kalangan
masyarakat Minang yang tinggal di Daerah Sumatera barat, sebagai miliknya sendiri
dan pemberi identitas.
Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat di bedakan atas pakaian
sehari-hari atau kerja dan pakaian upacara maupun pesta adat. Dari pembagian
tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin, usia,
dan status sosial pemakainya.
 20
Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah
seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah, saat bekerja, dan saat bepergian.
Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin, usia, dan status sosial.
Sejak tumbuh dan berkembangnya busana adat telah mengenal beberapa peraturan
adat yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya, diantaranya melalui
bentuk pakaian yang harus dikenakan. Busana yang dirancang untuk pemuka adat
terdiri dari pakaian penghulu untuk anak laki-laki, dan busana adat bundo kanduang
untuk perempuan.
2.1.3 Fungsi dan posisi busana adat dalam kebudayaan secara umum
Berbusana sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis
untuk melindungi tubuh dari cuaca, akan tetapi sangat berkaitan erat dengan adat
istiadat maupun pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan. Bagi masyarakat di
daerah, ketika mereka berbusana pada umumnya sangat memperhatikan ragam
busananya dan mengaitkan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, selain tentu saja
dengan kedudukan sosial si pemakai. Secara implisit (terkandung didalamnya), fungsi
busana bagi manusia semakin berkembang dan kompleks sejalan dengan makin
meningkatnya peradaban manusia.
Fungsi dan posisi busana adat bagi seseorang tidak hanya sekedar sebagai
pelindung tubuh dari cuaca dingin dan teriknya sinar matahari, tetapi juga
mempunyai fungsi lain dalam struktur sosial suatu masyarakat. Dari busana yang
dikenakan oleh seseorang dapat diketahui status sosial orang yang bersangkutan
dalam masyarakatnya. Pada masyarakat Minangkabau misalnya, busana adat yang
dikenakan oleh para pemangku adat (datuk dan sutan) berbeda dengan orang
 21
kebanyakan, sehingga orang mengetahui secara persis status sosial si pemakainya..
Demikian juga busana yang dikenakan oleh bundo kanduang berbeda dengan
perempuan kebanyakan. Busana yang dikenakan oleh bundo kanduang juga tidak
hanya sekedar busana, tetapi di baliknya ada makna simbolik yang sarat dengan nilainilai
yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan.
Pakaian sering digunakan untuk menunjukkan status sosial. Orang
melakukan penilaian terhadap nilai dan status orang lain, berdasarkan pakaiannya
yang dikenakan. Status merupakan hasil perkembangan berbagai sumber, misalnya
dari jabatan, keluarga, jenis kelamin, gender, dan usia. Nilai sosial dapat berubah,
yang tetap adalah nilai sosial yang diwariskan. Nilai sosial yang berubah disebut
pencapaian atau tingkatan. Status karena jabatan contohnya adalah kolektor, pejabat
pemerintah, dan dosen. Status keluarga didapat dari tingkat senioritas berdasarkan
usia. Status jenis kelamin, gender, usia, bahkan perkawinan mudah diubah karena
pencapaian, terutama di negara Barat.
Pakaian digunakan untuk mendefinisikan peran sosial yang dimiliki
seseorang. Pakaian diambil sebagai tanda bagi seseorang untuk menjalankan peran
tertentu, sehingga berperilaku sesuai tuntutan pakaian tersebut. Pakaian yang berbeda
menunjang kelancaran interaksi sosial atau memberi tekanan. Pakaian yang
digunakan oleh dokter, perawat, pasien, dan pengunjung, menunjukkan peran orang
yang memakainya.
Bertitik tolak dari konsep kebudayaan Koentjaraningrat membicarakan
kedudukan adat dalam konsepsi kebudayaan. Menurut tafsirannya adat merupakan
perwujudan ideal dari kebudayaan. Ia menyebut adat selengkapnya sebagai adat tata
 22
kelakuan. Adat dibaginya atas empat tingkat, yaitu tingkat nilai budaya, tingkat
norma-norma, tingkat hukum dan tingkat aturan khusus. Adat yang berada pada
tingkat nilai budaya bersifat sangat abstrak, ia merupakan ide-ide yang
mengkonsesikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan suatu masyarakat.
Seperti nilai gotong royong dalam masyarakat Indonesia. Adat pada tingkat normanorma
merupakan nilai-nilai budaya yang telah terkait kepada peran-peran tertentu
(roles), peran sebagai pemimpin, peran sebagai mamak, peran sebagai guru
membawakan sejumlah norma yang menjadi pedoman bagi kelakuannya dalam hal
memainkan peranannya dalam berbagai kedudukan tersebut.
Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang mempunyai
keunikan dalam sistem kemasyarakatan dan kekerabatan matrenial. Hal ini
memberikan kekhasan terhadap Minangkabau yang membedakannya dari berbagai
etnis Indonesia lainnya. Kesatuan keluarga dari garis keturunan suku ibu, sementara
bapak atau suami berada diluar kesatuan keluarga isteri dan anak-anaknya. Dalam hal
ini bapak atau suami tidak termasuk dalam keluarga rumah gadang, akan tetapi
sebagai sumando dan urang sumando (orang luar atau pendatang), karena ia
didatangkan dari persukuan lain.
Dalam menyelenggarakan struktur adat minangkabau terdapat tiga unsur yang
dominan disebut dengan tali tiga sapilin (tiga unsur yang mempersatukan) atau sering
disebut juga tungku tiga sajarangan, yakni unsur-unsur adat terdiri dari para
penghulu (Datuk), unsur agama dari ulama dan Cerdikcendekia dari kalangan
intelektual atau orang yang dapat diakui pemikiran dan gagasannya.
 23
a. Makna bahasa rupa pada busana adat
Bahasa Rupa seperti halnya bahasa kata yang memiliki kata dan tata
bahasa, juga memiliki padanannya dalam bentuk imaji (image) dalam tata ungkapan.
Imaji mencakup makna yang luas, baik itu citra (imaji dalam khayalan) maupun
wimba (imaji kasat mata).
Selain bahasa rupa busana adat yang menganut sistem alam, juga terdapat
bahasa rupa tradisi yang dipengauhi sistem ruang dan waktu, yang bukan hanya
mampu memvisualkan apa yang terlihat, tetapi juga mampu memberikan cerita
tentangnya, seperti apa yang dilakukan bahasa kata, pakaian dan struktur busana adat
yang kesemuanya memiliki macam-macam makna. Bahasa rupa pada busana adat
minang, baik pada suntiang, kodek, dan baju .kurung. Pada umumnya pakaian adat
mempunyai aneka fungsi sebagai berikut :
Pertama, Baju yang dipakai oleh Bundo Kanduang dalam upacara adat
disebut baju kurung yang melambangkan bahwa ibu tersebut terkurung oleh undangundang
yang sesuai dengan agama dan adat di Minangkabau. Baju kurung ini diberi
hiasan sulaman benang emas dengan motif bunga kecil yang disebut tabua atau tabur
Kedua, Kain sarung yang dipakai oleh Bundo Kanduang dibuat dari kain
balapak atau songket tenunan Pandai Sikek, Padang Panjang. Kain sarung ini
berhiaskan benang emas atau perak dengan motif bunga, daun atau garis-garis
geometris yang ekspresif dan bentuk yang dinamis
Ketiga, Setelah memakai baju kurung, di atas bahu kanan dipakai
selendang atau selempang dari kain songket yang disebut kain balapak buatan Pandai
Sikek. Cara memakainya di selempangkan dari bahu kanan ke bawah tangan kiri,
 24
melambangkan tanggung jawab yang dibebankan di pundak Bundo Kanduang, yang
harus dilaksanakan dengan baik.
Mempelajari makna pada busana adat dalam pengertian teori Levi-Strouss
merupakan sebuah kajian yang secara cermat diareakan pada keberadaan struktur
yang ditransformasikan. Struktur akan memberikan penjelasan tentang kedudukan,
fungsi, bentuk dan relasi-relasinya dengan sesuatu yang bersifat setara dan atau
berlawanan. Tetapi dalam tataran struktur bathiniah akan menjadi acuan pokok.
Sudah barang tentu jika orientasi mendasarkan dari komunitas tertentu tidak
mengalami perubahan. Maka pertimbangan dalam memilih obyek kajian untuk
pendekatan Semiotika ini lebih ditekankan pada budaya masyarakat yang relatif
stabil, yaitu komunitas masyarakat Minang di Sumatera Barat 9
Pemahaman permasalahan tersebut menyadarkan adanya tanda dari
kebudayaan yang tidak hanya sebagai akibat dari kegiatan interaksi masyarakat
dengan masyarakat lain atau masyarakat dalam institusi sosial. Tetapi kebudayaan
dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang akan membentuk cara berfikir dan
bertingkah laku, yang pada tataran realitas material akan nampak berbagai bentuk
variasi, tetapi pada kenyataan struktur bathiniah akan menunjukkan suatu kesamaan
pandangan serta kepribadian yang disimboliskan. Seperti yang nampak pada motif
batik klasik pada busana adat Jawa secara material kelihatan bervariasi bentuknya,
tetapi secara struktural bathiniah dibentuk oleh adanya simbolisme dari kepribadian
masyarakat Jawa dan khususnya adat istiadat karaton Surakarta.
9
Ahimsa-Putra, H.S., , Tanda Simbol Budaya dan Ilmu Budaya, Makalah, Yogyakarta: Unit Pengkajian dan Pengembangan
Budaya, 2002, hlm. 77
 25
2.2 Bundo kanduang sebagai artefak kebudayaan minang koto Gadang
Bundo kanduang sebagai suatu artefak kebudayaan, Minang kabau koto
gadang, merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh Bundo kanduang dan para
kerabatnya yang disebut datuk atau ninik mamak. Mereka terdiri dari golongangolongan
sesuai dengan fungsi dan jabatannya, yang secara visual ditandai pula oleh
cara dan bentuk pakaian. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian
tersebut dikenakan secara lengkap, di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin
dikenakan.
Sejalan dengan perkembangan zaman, pakaian resmi semacam itu lama
kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap.Misalnya pada masa penjajahan Jepang
(1942 - 1945), yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau,
kemudian disusul dengan masa kemerdekaan, pakaian atau busana menurut
kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi, dan yang pada gilirannya jarang dijumpai
lagi. Namun demikian, pakaian adat tradisional bundo kanduang kebudayaan Minang
kabau yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh
golongan masyarakat biasa. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional
yang resmi dan khas Sumatra barat. Dalam perkembangan selanjutnya, pakaian ini
diterima di kalangan masyarakat Minang yang tinggal di Daerah Koto gadang kota
Sumatera Barat, sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas.
Pakaian adat tradisional Bundo Kanduang yang sudah jarang dijumpai lagi
akhir-akhir ini, pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat
yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Pakaian khusus itu akan
muncul secara menarik dan berwibawa. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat
 26
itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman, tetapi tetap terpelihara dengan baik
dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting.
2.2.2 Budaya Masyarakat Koto Gadang
Interaksi antara manusia dengan masyarakat melahirkan kebudayaan.
Kebudayaan membentuk kepribadian individu dan masyarakat berdasarkan pengaruh
lingkungan alam dan lingkungan social masyarakat. Kebudayaan bergerak akibat
gerak individu dan masyarakat, sehingga setiap kebudayaan itu mempunyai dinamika.
Kebudayaan mewujudkan dan menyalurkan prikelakuan manusia. Kebudayaan
adalah semua hasil karya , rasa, dan cipta masyarakat, demikian Selo Soemarjan dan
Soelaeman Soemardi. Hasil karya menghasilkan teknologi kebendaan yang
seumumnya digunakan untuk menguasai alam sekitarnya. Hasil rasa mewujudkan
segala kaedah dan norma yang diperlukan untuk mengatur masalah kemasyarakatan
dalam arti luas, dan dalam hal ini merupakan unsur kebudayaan yang bersifat
universal. Unsur kebudayaan itu antara lain;
· Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
· System ekonomi,
· System kemasyarakatan,
· Bahasa,
· Kesenian,
· Agama, dan
· Ilmu pengetahuan.
 27
Dimana posisi kebudayaan, menurut Mukti Ali 10 adalah budi daya, tingkah
laku manusia. Tingkah laku manusia digerakan oleh akal dan perasaanya. Yang
mendasari semua itu adalah ucapan hatinya. Dan ucapan batin itu merupakan
keyakinan dan penghayatannya terhadap sesuatu yang dianggap benar. Apa yang
dianggap benar itu besar atau kecil adalah agama. Dan agama, sepanjang tidak di
wahyukan adalah ia hasil dari filsafat.
Apabila diperbandingkan definisi kebudayaan dan definisi falsafah, keduanya
bertemu dalam hal berpikir. Kebudayaan adalah cara berpikir. Sedangkan filsafat
berpikir secara radikal, sistematik dan universal. Berpikir demikian berujung pada setiap
jiwa atau ucapan batin. Manisfestasinya adalah sikap hidup dan pandangan
hidup. Dengan demikian jelaslah, bertapa falsafah itu mengendalikan cara berpikir
kebudayaan. Dibelakang kebudayaan selalu kita selalu menemukan falsafah hidup.
Perbedaan kebudayaan dapat dikembalikan kepada perbedaan filsafat.
Kebudayaan juga dipandang sebagai tata nilai dalam Gazalba, 11. Seorang
individu dalam masyarakat atau masyarkat itu berbuat sesuatu, karena sesuatu itu bernilai
dalam masyarakat atau masyarkat itu berbuat sesuatu, karena sesuatu itu bernilai
atau berguna bagi kehidupannya. Barang sebagai hasil perbuatan itu dihastrati karena
ia diperlukan. Dengan demikian barang itu mengandung nilai. Jadi tingkah laku dan
hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju kepada realitas nilai
Kalau melihat segi sosio-kultural, Alam Minangkabau mendorong setiap
orang merantau, maka ia menolak sifat alam itu sendiri. Jika ada orang Minang yang
10
Mukti Ali , Ilmu Budaya Dasar, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hlm. 4
11 Gazalba, Drs. Sidi, Sistematika Filsafat I-IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hlm. 77
 28
tidak merantau, secara berseloroh perantau minang akan mengatakan, “Minangnya
tidak lengkap, barangkali yang tinggal kabaunya.” Pergi merantau bagi pandangan
masyarakat Minangkabau seharusnya tidak memutuskanya dengan ranah kelahiran
Pendidikan secara alamiah bagi orang-orang Minangkabau dalam taraf yang paling
awal adalah alam itu sendiri yang melahirkan dan membesarkan anak negeri. Rantau
dimana mereka belajar berjuang dalam hidup dan mandiri (survival) adalah alam, yang
mengasa kecerdasan dan mengaktualisasikan kecerdasan berpikir. Mereka bertemu
dengan kehidupan yang lebih maya: ideologi dan cita-cita atau tujuan hidup.
Dinamika semacam ini tidak lahir dari sebuah negeri yang memelihara strata
sosial (feodalisme atau aristokrasi), tetapi pada masyarakat egaliter, memiliki pandangan
kesamaan dalam hak dan kewajiban itu hanya dalam sebuah masyarakat negeri
yang menganut demokrasi. Dalam sejarahnya masyarakat Minangkabau telah
mempraktekan sikap hidup egaliter dan tatanan demokrasi itu sejak berabad-abad
yang lampau. Merantau bagi pemuda Minangkabau adalah bagian falsafah hidup.
Setiap gagasan dan kemauan untuk maju diuji dalam suasana dan iklim yang berbeda
menjadi bentuk baru yang lebih dinamis. Masyarakat Minangkabau menyebut
kehidupan merantau sebagai dinamika sosial, dari tesa ke antitesa menuju sintesa.
Sintesa dalam kurun waktu tertentu berproses ke awal menjadi tesa, antitesa
lalu menjadi sintesa,dan seterusnya. Kebudayaan Minangkabau sesungguhnya
mengandung nilai-nilai yang mendorong orang berpikir realistis, dialektis, dinamis,
dan logis, Hal itu antara lain terlihat dalam konsep rantau yang di pahami oleh
masyarakat minangkabau yang bukan saja berarti merangsang orang meninggalkan
 29
kampung halaman, dan kemudian kembali lagi, tetapi juga mendorong orang
membuka diri dan pikiran terhadap dunia luar.12
Kebiasaan berguru pada alam menumbuhkan kemampuan mengambil hikmah
dari berbagai keadaan yang tak selamanya menguntungkan. Cancang tadaek jadi
ukie, artinya sebuah situasi yang tak menguntungkan sekalipun, akan bisa melahirkan
gagasan dan tindakan positif dalam pikiran seperti inilah orang muda minang dibesarrkan
setidak-tidaknya pada zaman dahulu.
Namun secara commonsense, dengan membawakan pengertian-pengertian
falsafah hidup kepada kebudayaan , kita dapat mewujudkan tujuan masyarakat
Minang yakni membantu memperluas wawasan berpikir masyarakat umumnya,
karena falsafah hidup senantiasa mendorong seseorang untuk :
· Berusaha mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum di ketahui
· Berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahuinya dalam
kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
· Mengoreksi diri, berani melihat sejauh mana kebenaran yang dicari telah
dijangkaunya
· Tidak apatis terhadap lingkungan dan terhadap nilai yang hidup dalam
masyarakat; dan
· Senantiasa memberi makna bagi setiap amal perbuatannya.
Pergi merantau bagi pandangan masyarakat Minangkabau seharusnya tidak
memutuskan dengan ranah kelahiran. Maka dengan itu, banyak Tokoh dan Intelektual
12
Gunawan, Restu, Mohamad Yamin dan Cita-cita persatuan. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2005, hlm. 213
 30
Minangkabau, namun tidak seorangpun mengabdi di kampung. Bak bunyi
pepatah: mamaga karambie condong ke parak urang, (payah-payah memagar kelapa,
buahnya jatuh ketempat orang).
a. Budaya Suku Masyarakat Minangkabau
Kata suku dari bahasa Sanskerta, artinya "kaki", satu kaki berarti seperempat
dari satu kesatuan. Pada mulanya negeri mempunyai empat suku, Nagari nan ampek
suku. Nama-nama suku yang pertama ialah Bodi, Caniago, Koto, Piliang.
Kata-kata ini semua berasal dari sanskerta :
· Bodi dari bhodi (pohon yang dimuliakan orang Budha)
· Caniago dari caniaga (niaga : dagang)
· Koto dari kata (benteng)
· Piliang dari pili hiyang (para dewa) Bodi Caniago adalah kelompok kaum
Budha dan saudagar-saudagar (orang-orang niaga) yang memandang manusia
sama derajatnya.
Koto Piliang adalah kelompok orang-orang yang menganut agama Hindu
dengan cara hidup menurut hirarki yang bertingkat-tingkat. Dalam tambo, kata-kata
Bodi Caniago dan Koto Piliang ditafsirkan dengan :
· Budi Caniago : Budi dan tango, budi nan baharago, budi nan curigo
Merupakan lambang ketinggian Datuak Perpatih nan Sabatang dalam
menghadapi pemerintahan aristokrasi Datuak Katumanggungan.
· Koto Piliang : kata yang pilihan (selektif) dalam menjalankan pemerintahan
Datuak Katumanggungan.
 31
b. Pertambahan Suku budaya Minang
Suku yang empat itu lama-lama mengalami perubahan jumlah karena :
Pemecahan sendiri, karena warga sudah sangat berkembang. Umpama : suku
koto memecah sendiri dengan cara pembelahan menjadi dua atau tiga suku.
Hilang sendiri karena kepunahan warganya, ada suku yang lenyap dalam satu nagari.
Perpindahan, munculnya suku baru yang warganya pindah dari negeri lain.
Tuntutan kesulitan sosial, hal ini timbul karena masalah perkawinan, yang melarang
kawin sesuku (eksogami). Suatu suku yang berkembang membelah sukunya menjadi
dua atau tiga.
Biasanya suku-suku yang baru tidak pula mencari nama baru. Nama yang
lama ditambah saja dengan nama julukan. Jika suku bari itu terdiri dari beberapa
ninik, jumlah ninik itu dipakai sebagai atribut suku yang baru itu. Koto Piliang
memakai angka genap dan Bodi Caniago memakai angka ganjil. Umpama :
Suku Melayu membelah menjadi : melayu ampek Niniak, Melayu Anam
Niniak, Caniago Tigo Niniak, Caniago Limo Niniak (Bodi Chaniago).
c. Pembentukan suku budaya Minang
Suku dipemukiman baru perpindahan dari beberapa negeri ke tempat
pemukiman baru di luar wilayah negari masing-masing, ditempat yang baru itu
dapatdibuat suku dengan memilih beberapa alternatif :
Setiap anggota bergabung dengan suku yang sejenis yang terlebih dulu tiba di
tempat itu. Beberapa ninik atau kaum dari suku yang sama berasal dari nagari yang
sama bergabung membentuk suku baru. Nama sukunya pakai nan seperti: Caniago
nan Tigo Niniak atau Caniago nan Tigo. Apabila tidak ada tempat bergabung dengan
 32
suku yang sama lalu mereka berkelompok membentuk suku baru. Mereka memakai
nama suku asli dari negerinya tanpa atribut, seperti asal Kitianyir ditempat baru tetap
Kutianyir.
Membentuk suku sendiri di nagari baru tanpa bergabung dengan suku yang ada
ditempat lain. Biasanya memakai atribut korong seperti Koto nan Duo Korong.
Orang-orang dari bermacam-macam suku bergabung mendirikan suku yang baru.
Nama suku diambil dari nama negeri asal : seperti Suku Gudam (negeri Lima Kaum),
Pinawan (Solok Selatan), suku Padang Laweh, suku Salo dsb.
Selain dari itu , cara-cara lain yaitu mengambil nama-nama seperti :
Tumbuh-tumbuhan : Jambak, Kutianyir, Sipisang, Dalimo dll.
Benda : Sinapa, Guci, Tanjung, Salayan dll.
Nagari : Padang Datar, Lubuk Batang, Padang Laweh, Salo dll.
Orang : Dani, Domo, Magek dll.
Suku yang demikian lebih banyak daripada suku-suku yang semula. Apabila
dijumlahkan nama-nama suku itu seluruhnya sudah mendekati seratus buah di seluruh
Alam Minangkabau
2.2.3 Bahasa Rupa Busana Adat Bundo Kanduang
Bahasa rupa busana adat bundo kanduang senantiasa berhubungan dengan
penampilan rupa yang dapat dicerap orang banyak dengan pikiran maupun
perasaannya; rupa yang mengandung pengertian atau makna, karakter serta suasana,
yang mampu dipahami (diraba dan dirasakan) oleh khalayak umum atau terbatas.
Bahasa rupa busana adat Bundo kanduang yang bertugas membawa pesan dari satu
pihak kepada pihak lain. Sebagai bahasa rupa, efektivitas penyampaian pesan menjadi
 33
pemikiran utama sehingga makna yang terkandung busana adat Bundo Kanduang
masyarakat minang harus tahu betul seluk beluk pesan yang ingin disampaikan.
Bahasa rupa akan sangat berkesan bila pesan yang disampaikan bersifat unik dan
mudah dibedakan dari pesan di sekitarnya
Bahasa rupa busana adat Bundo kanduang, di kalangan orang
Minangkabau, disebut sebagai “peti ambon puruk”, yaitu orang yang diserahi
tanggung jawab untuk memegang harta pusaka kaumnya. Jadi, seorang perempuan
yang menjadi Bundo kanduang akan memegang peranan penting dalam kaumnya,
sehingga tidak semua perempuan dapat menjadi bundo kanduang. Oleh karena itu,
yang diangkat menjadi Bundo kanduang adalah orang yang arif dan bijaksana,
sehingga mampu menjadi pengayom bagi kaumnya. Dan, sebagai seorang pemimpin,
tentu saja memiliki busana kebesaran yang berbeda dari perempuan biasa, karena
busana dan perhiasan yang dikenakannya merupakan simbol dari tanggung jawabnya
terhadap anak-kemenakan di dalam sebuah rumah gadang.
Makna Simbolik yang Terkandung dalam Busana Bundo Kanduang :
Gambar 2.1 busana adat Bundokanduang
 34
a. Busana Bagian Atas
Bentuk hiasan kepala pengantin Wanita Minang yang dipakai secara umum
sekarang, namanya suntiang gadang, berasal dari daerah Padang/Pariaman. Kata
gadang berarti besar. Ini untuk membedakan, karena ada juga suntiang ketek (kecil)
yang biasa dipakai oleh pendamping-pendamping pengantin yang disebut pasundan.
Penyusunan kembang-kembang sunting ini diatas kepala pengantin wanita mengikuti
deret ganjil. Paling tinggi sebelas tingkat, dan paling rendah tujuh tingkat. Sedangkan
sunting untuk para pasundan, dimulai dari deret lima sampai tiga.
Tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek adalah penutup kepala yang terbuat dari
kain balapak. Perlengkapan ini bentuknya seperti tanduk (runcing) yang berumai
emas atau loyang sepuhan. Makna simbolik dari perlengkapan ini adalah kepemilikan
rumah gadang. Artinya, orang yang mengenakannya adalah bundo kanduang
(pemilik suatu rumah gadang).
b. Busana Bagian Tengah
Baju kurung dengan warna hitam, merah, biru, atau lembayung yang dihiasi
dengan benang emas dan tepinya diberi minsai bermakna simbolik, terutama minsainya,
bahwa seorang bundo kanduang dan kaumnya harus mematuhi batas-batas adat
dan tidak boleh melanggarnya. Sementara, balapak yang diselempangkan dari bahu
kanan ke rusuk kiri bermakna simbolik bahwa seorang bundo kanduang bertanggung
jawab melanjutkan keturunan.
c. Busana Bagian Bawah
Kain sarung (kodek) balapak bersulam emas bermakna simbolik
kebijaksanaan. Artinya, seorang bundo kanduang harus dapat menempatkan sesuatu
 35
pada tempatnya, sebagaimana yang diibaratkan oleh pepatah “memakan habis-habis,
menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang”.
d. Perhiasan
Selain pakaian ada pula beberapa perhiasan atau aksesoris yang digunakan
oleh bundo kanduang. Perhiasan tersebut terdiri dari seperangkat kaluang (kalung)
yang terdiri dari sembilan macam bentuk, seperangkat gelang dan cincin yang juga
terdiri dari bermacam bentuk. Perhiasan-perhiasan tersebut pada umumnya terbuat
dari bahan emas dan batu alam. Perhiasan seperti seperangkat kaluang dan galang
serta cincin memiliki perbedaan yang khusus jika dibandingkan dengan perhiasan
wanita pada umumnya, sebab merupakan simbol-simbol yang mengandung normanorma
dan nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai acuan dalam kehidupan
bermasyarakat. Jadi, dapat dikatakan bahwa perhiasan yang dikenakan oleh bundo
kanduang tidak hanya berfungsi untuk memperindah penampilan, melainkan juga
memiliki makna tertentu yang terkait dengan adat istiadat Minangkabau. Kalung dan
gelang tersebut hanya dipakai pada saat dilaksanakan upacara adat dimana bundo
kanduang hadir dengan segala kebesarannya sebagai seorang pemimpin adat.
2.2.4 Modernisasi dan Akulturasi
Pertentangan antara paham lama dan baru merupakan suatu proses yang telah
lama berlangsung dalam masyarakat Minang kabau. Perang Padri di Minangkabau
pada permulaan abad ke-19 pada mulanya berupa pertentangan kaum lama dan kaum
baru, yang kemudian menjelma menjadi persoalan politik. Ketika itu kaum baru telah
melihat bahwa agama islam yang dijalankan di Minangkabau telah menjadi satu
dengan adat, sehingga telah kehilangan hal-hal yang utama dari islam. Mereka
 36
berusaha memurnikan agama islam dengan Reformasi, dan ini menimbulkan reaksi
dari golongan lama.
Pertentangan lama dan baru ini juga berlangsung dalam abad ke-20 dengan
makin terdesaknya golongan lama. Golongan-golongan baru yang agresif berhasil
memodernisasi sisitem sekolah agama yang ada, sehingga murid-murid juga diajar
pengetahuan umum dan bukan hanya persoalan agama saja. Agama bagi mereka
bukan persoalan yang harus diterima begitu saja, tapi hal yang juga boleh
diperdebatkan.proses perubahan ini berpengaruh terhadap keseluruhan sistem
kemasyarakatan Minangkabau. Justru perjuangan mereka itulah yang merupakan
suatu aspek dari proses modernisasi akibat banyak pengaruh lain, menyebabkan
seorang anak dapat mewariskan kekayaan pencarian ayahnya. Hak ini juga
berpengaruh terhadap makin hilangnya gejala endogami lokal dalam masyarakat
Minang kabau.
Perkenalan yang lebih mendalam dengan agama islam, telah menimbulkan
suatu kesadaran pada orang Minangkabau untuk lebih mementingkan keislamannya
dari keminang kabaunya, dan telah menimbulkan suatu kesadaran tentang keganjilan
adat Minangkabau. Kalau kedudukan ayah dalam sistem Minangkabau boleh
dikatakan tidak tentu, maka islam dengan jelas memberi kekuasaan kepada ayah
untuk mengawasi keluarga itu. Di samping itu, dalam islam tidak ada halangan untuk
mengawinkan siapa saja asal beragama islam dan asal jangan orang-orang tertentu,
seperti ibu, ayah, saudara kandung, saudara seibu atau saudara seayah dan
sebagainya. Dalam sistim Minangkabau pilihan itu terbatas. Orang belum tentu dapat
kawin dengan seseorang yang diizinkan menurut agama, hanya karena orang itu
 37
termasuk ke dalam satu kelompok adat yang sama, atau karena orang itu lebih tinggi
kelas sosialnya. Keadaan ini menyebabkan mereka mengadakan tentangan terhadap
sistem adat mereka, sebagaimana dapat terlihat pada berbagai roman yang berlatar
belakang masyarakat Minang kabau.
Perkenalan dengan hal-hal yang terbawa oleh kebudayaan barat dan pendidikan
belanda lebih memperhebat tantangan terhadap sistem Minangkabau tadi. Salah satu
sifat yang penting dari pendidikan yang dibawa oleh belanda adalah pendidikan yang
berpusat di kota, karena orang Minangkabau yang pergi kekota untuk sekolah, lepas
dari kehidupan tradisional. Harus diingat, bahwa setiap desa di Minangkabau
merupakan kesatuan yang berdiri sendiri. Orang yang berasal dari luar desa itu akan
dianggap sebagai orang asing. Karena itu, seorang Minangkabau yang telah
meninggalkan desanya, berarti telah meninggalkan adatnya dan terlepas dari
tradisinya. Makin lama ia berada di kota, apalagi diluar daerah Sumatera Barat, maka
kekangan tradisi makin sedikit terhadap dirinya. Demikian, ia tak segan-segan untuk
kemudian mengadakan kritik terhadap adat yang dianggapnya tak baik dalam
masyarakat. Hal inilah yang dapat dibaca dalam roman-roman dari zaman sekitar
tahun 1920 sampai 1930, yang berdasarkan tema konflik angkatan dalam masyarakat
Minang kabau.
Persoalan modernisasi bukan lagi persoalan baru pada masyarakat Minang
kabau, dan kemajuan pendidikan sebagai salah satu aspek dari modernisasi ini, adalah
salah satu hal yang sudah sejak lama berlangsung pada masyarakat Minangkabau.
Namun sebagai juga dengan kebanyakan tempat di Indonesia, kemajuan pendidikan
telah menyebabkan urbanisasi, yang di Minangkabau mengambil bentuk
 38
“perantauan”. Banyak putra Minangkabau pergi ke Jawa, dan terutama ke Jakarta
untuk menetap. Ini adalah suatu persoalan yang gawat dalam rangka pembangunan
daerah Minangkabau.
2.3 Makna dalam Bahasa Rupa
Bahasa Rupa seperti halnya bahasa kata yang memiliki kata dan tata
bahasa, juga memiliki padanannya dalam bentuk imaji (image) dalam
tata ungkapan. Imaji mencakup makna yang luas, baik itu citra (imaji
dalam khayalan) maupun dengan cara apa objek itu tergambar (imaji kasat mata).
Karena bahasa rupa yang tampil dalam makna kali ini, adalah bagian dari
dinamika budaya yang bukan cakrawala baru baik intelelektualitas maupun kualitas
perupa ketika menambahkan nilai-nilai estetika pada rupa-rupa karyanya. Perupa
tidak lagi diikat dengan suasana tradisional yang komunal, tapi nuansa konterporer
yang individual. Namun dalam perjalanan kesenirupaan para perupa masih banyak
memakai bahasa ibu, sebagi intuisi ketika mereka bercipta seni rupa.
Bahasa rupa kini dianggap tidak sekadar alat untuk menyampaikan sebuah
ide, gagasan pesan, dan gaya penampilan, akan tetapi ia ikut membentuk jalan pikiran
itu sendiri. Artinya, cara penampilan seseorang akan sangat ditentukan oleh bahasa
rupa yang digunakannya.
Maka dengan itu, tata cara duduk, berjalan, berpakaian, berdandan, semuanya
dilihat dalam kerangka relasi komersial. Inilah yang dikatakan keramahan komersial,
yaitu keramahan yang motifnya semata adalah untuk mencari celah keuntungan
ekonomis, bukan motif sosial atau moral.
 39
2.3.2 Makna dan Unsur-unsurnya
Kita semua seringkali menggunakan makna tetapi sering kali pula kita
tidak memikirkan makna itu. Ketika kita masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh
dengan Upacara pernikahan, di sana muncul sebuah makna. Sepasang malapulai
(pengantin) sedang duduk di sebuah kursi dengan pakaian busana lengkap dan kita
mengartikan bahwa ia sedang duduk seperti “seorang kerajaan” yang menunggu para
undangan atau dalam kondisi terlayani segala hal. Seseorang tertawa dengan
kehadiran kita dan kita mencari makna; apakah ia mentertawai kita atau mengajak
kita tertawa? Seorang kawan menyeberang jalan dan melambaikan tangannya ke arah
kita, hal itu berarti ia menyapa kita. Makna dalam satu bentuk atau bentuk lainnya,
menyampaikan pengalaman sebagian besar umat manusia di semua masyarakat.
Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol.
Simbol mengacu pendapat Spradley adalah objek atau peristiwa apapun yang
menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: pertama, simbol itu
sendiri. Kedua, satu rujukan atau lebih. Ketiga, hubungan antar simbol dengan
rujukan. Semuanya itu merupakan dasar bagi keseluruhan makna simbolik.
Sementara itu, simbol sendiri meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau alami.
2.3.3 Mengkaji makna dan Bahasa Rupa dengan Semiotika
Perkembangan bahasa rupa telah dimulai sejak zaman pra-sejarah, yang
belum memiliki tulisan. Oleh sebab itu, gambar pada gua cadas pra-sejarah atau
primitif perlu memiliki kemampuan bercerita yang kuat sehingga para “leluhur” suku
dapat mentransfer ajaran-ajaran primitif yang sangat ketat dan sedikit berubah
 40
(sebagai buku pintar zaman primitif). Namun setelah ditemukannya tulisan, perlahanlahan
peranan gambar untuk bercerita mengalami penurunan, Maka tak
mengherankan jika dunia seni rupa kemudian lebih banyak membicarakan aspek
estetis dan simbolis dan sangat sedikit membicarakan aspek bercerita dari satu karya
seni rupa.
Mengkaji makna dan bahasa rupa dengan semiotika sangat akrab dalam
kehidupan manusia. Itu karena ia representasi sosial budaya masyarakat dan salah
satu manifestasi kebudayaan yang berwujud produk dari nilai-nilai yang berlaku pada
waktu tertentu. Ia merupakan kebudayaan yang benar-benar dihayati, bukan
kebudayaan dalam arti sekumpulan sisa bentuk, warna, dan gerak masa lalu yang kini
dikagumi sebagai benda asing terlepas dari diri manusia yang mengamatinya.
Tanda-tanda tersebut kemudian dimaknai sebagai wujud dalam memahami
kehidupan. Manusia melalui kemampuan akalnya berupaya berinteraksi dengan
menggunakan tanda sebagai alat untuk berbagai tujuan, salah satu tujuan tersebut
adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain sebagai bentuk adaptasi dengan
lingkungan.
Maka dengan itu, maksud dibuatnya sebuah hiasan tidak saja sekedar
memperindah penampilan benda yang dihias. Namun, hiasanpun mampu dijadikan
sebagai media komunikasi; yang menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada
pengamat atau masyarakat di sekitarnya. Melalui makna yang ada pada Bundo
Kanduang dan bahasa rupanya dapat diketahui status keluarga pemilik dan pemakai
kedua jenis barang tersebut; bahwa pada dasarnya Busana Bundo Kanduang dan
perhiasannya hanya dimiliki oleh pihak-pihak tertentu saja dan bukan untuk
 41
sembarangan pakai. Jadi, fungsi dari kedua jenis produk ini bersifat sakral. Namun,
akhir-akhir ini peranan benda yang disebutkan di atas telah bergeser kepada fungsi
yang bersifat profan (tidak bersifat sakral), yang bisa dimiliki oleh segala lapisan
masyarakat dimana ia mampu untuk memperolehnya. Perkembangan fungsi ini dapat
dilihat dari munculnya berbagai bentuk pemakaian dan busana Bundo Kanduang di
Minang kabau selain dari pada struktur busana pada pakaian manusia dan struktur
bahan pada sebuah karya tersebut.
Telah diungkapkan di atas bahwa dalam pengkajian bahasa rupa dan
semiotika Saussure adalah ahli linguistik, maka bila melihat konsep semiotika
Saussure, berarti tidak melepaskan dari pandangannya tentang bahasa. Menurutnya,
bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang mengungkapkan ide-ide, bahasa ini
juga dapat dipersamakan dengan sistem bahasa tulisan, alpabet tuli-bisu, symbol
ritus-ritus, simbol kesopanan-santuan atau adat, tanda-tanda dari kemiliteran, dan
lain-lain. Hal ini mengisyaratkan bahwa sistem bahasa bukan saja mengacu pada
bahasa oral, namun juga mencakup pada sistem kebahasaan lainnya yang
bersangkutan dengan sosio budaya dari kehidupan manusia.
2.3.3 Semiotika
Pengertian semiotika sampai sekarang telah membedakan dua jenis
semiotika, yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Yang pertama
menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu di antaranya
mengasumsikan adanya enam faktor dalam komukasi, yaitu pengiriman, penerimaan
 42
kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan)
(Jacorson, 13 dalam Hoed 14). Yang kedua memberikan tekanan pada teori tanda dan
pemahamannya dalam suatu konteks tertentu.
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam
pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai
cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang
berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan
model dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh
praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, semuanya dapat juga
dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu
sendiri Piliang 15 .
Semiotika menurut Berger 16 memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de
Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut
mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan di antara keduanya tidak saling
mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar
belakang keilmuan Saussure adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure
menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).
13
Jacorson, 1963, dalam Hoed 2001, hlm. 140.
14
Hoedoro Hoed, Benny. ‘’Dampak Komunikasi Periklanan, Sebuah Ancangan dari Segi Semiotik’ ’ . Jurnal Seni BP ISI
Yogyakarta IV/2., 1994, hlm. 111-133
15
Piliang, Yasraf Amir. Sebuah Dunia yang Dilipat, Realitas Kebudayaan menjelang Milenium Ketiga dan Matinya
Posmodernisme. Bandung: Penerbit Mizan.1998, hlm 17
16
Berger, Arthur Asa.. Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Penerjemah M. Dwi Marianto dan Sunarto.
Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana, 2000, hlm. 10
 43
a. Tanda dan makna
Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian
tangan yang bisa diartikan memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan
setuju. Tanda bunyi, seperti tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering
telpon. Tanda tulisan, di antaranya huruf dan angka. Bisa juga tanda gambar
berbentuk rambu lalulintas, dan masih banyak ragamnya Noth,17.
‘Tanda’ dan ‘hubungan’ kemudian menjadi kata-kata kunci dalam analisis
semiotika. Bahasa dilucuti strukturnya dan dianalisis dengan cara mempertalikan
penggunaannya beserta latar belakang penggunaaan bahasa itu. Usaha-usaha
menggali makna bahasa rupa harus dihubungkan dengan aspek-aspek lain di luar
bahasa itu sendiri atau sering juga disebut sebagai konteks. Tanda dan konteks
menjadi dua kata yang tak terpisahkan, keduanya bersatu dan membentuk makna.
Konteks menjadi penting dalam interpretasi, yang keberadaannnya dapat
dipilah menjadi dua, yakni intratekstualitas dan intertekstulaitas. Intratekstualitas
menunjuk pada tanda-tanda lain dalam rupa, sehingga produki makna bergantung
pada bagaimana hubungan antar tanda dalam sebuah rupa. Sementara intertekstualitas
menunjuk pada hubungan antar rupa alias rupa yang satu dengan teks yang lain.
Makna seringkali tidak dapat dipahami kecuali dengan menghubungkan rupa yang
satu dengan bahasa rupa yang lain.
Artinya makna dan tanda selalu memunculkan makna atau penanda yang baru.
Hubungan ini baru dapat direntangkan dengan menurut prinsip metonimia dan
17
Piliang, Ibid 1998, hlm. 14
 44
metafora (pemakaian kata yang bukan bermakna melainkan sebagai kiasan atau
persamaan), walaupun juga tidak sepenuhnya makna dan tanda mencapai akhir. Inilah
kiranya yang membedakannya dengan teori tanda Saussure
b. Makna
Hasrat-hasrat yang dimiliki subjek akhirnya menjadi basis bahasa atau
penanda, karena hasrat juga membentuk psike manusia dan disitulah dapat
berlakunya subjektivitas. Dari hasrat ini dapat memunculkan signifikasi atau maknamakna
bersamaan dengan upaya subjek secara berkesinambungan mengendalikan
hasratnya di tengah sumber makna dan aturan-aturan sosial yang mengendalikan
hasrat si subjek
Tanda-tanda tersebut kemudian dimaknai sebagai wujud dalam memahami
kehidupan. Manusia melalui kemampuan akalnya berupaya berinteraksi dengan
menggunakan tanda sebagai alat untuk berbagai tujuan, salah satu tujuan tersebut
adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain sebagai bentuk adaptasi dengan
lingkungan.
Setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan, karena masingmasing
saling membutuhkan. Dengan demikian, gagasan strukturalisme Saussure
lebih menekankan pada aspek linguistik yang berupa bahasa, sistem tanda, simbol,
maupun kode dalam bahasa itu sendiri. Sehingga tak heran, kalau Saussure dikenal
sebagai bapak linguistik yang sangat kompeten dalam menganalisis makna dibalik
teks bahasa maupun simbol-simbol yang melatarbelakanginya
Spradley juga menjabarkan makna denotatif meliputi hal-hal yang ditunjuk
oleh kata-kata (makna referensial). Mengartikan makna denotatif adalah hubungan
 45
eksplisit antara tanda dengan referensi atau realitas dalam pertandaan tahap denotatif,
Misalnya, ada gambar manusia, binatang, pohon, rumah. Warnanya juga dicatat,
seperti merah, kuning, biru, putih, dan sebagainya. Pada tahapan ini hanya informasi
data yang disampaikan. 18
Sedangkan pandangan Spradley 19 menyebut makna konotatif meliputi semua
signifikansi sugestif dari simbol yang lebih daripada arti referensialnya. Menurut
Piliang 20 makna konotatif meliputi aspek makna yang berkaitan dengan perasaan dan
emosi serta nilai-nilai kebudayaan dan ideologi. Contohnya, gambar wajah orang
tersenyum, dapat diartikan sebagai suatu keramahan, kebahagiaan. Tetapi sebaliknya,
bisa saja tersenyum diartikan sebagai ekspresi penghinaan terhadap seseorang. Untuk
memahami makna konotatif, maka unsur-unsur yang lain harus dipahami pula.
c. Kode
Kode, merujuk terminologi sosiolinguistik ialah variasi tutur yang memiliki
bentuk yang khas, serta makna yang khas pula. Sementara itu, kode menurut Piliang,
adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk
memungkinkan satu pesan disampaikan dari seseorang ke orang lainnya. Di dalam
bahasa, sebuah pesan yang dikirim kepada penerima pesan diatur melalui seperangkat
konvensi atau kode. Umberto Eco menyebut kode sebagai aturan yang menjadikan
tanda sebagai tampilan yang konkret dalam sistem komunikasi. 21
18
Piliang (1998:14) Ibid
19
Spradley (l997:123) Ibid
20
Piliang 22 (1998:17), Ibid
21
Eco, Umberto. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press Eco, 1979, hlm. 59.
 46
Fungsi ciri khas kebudayaan yang menunjukkan pada sesuatu (mengacu pada
sesuatu) dilaksanakan berkat sejumlah kaidah, janji, dan kaidah-kaidah alami yang
merupakan dasar dan alasan mengapa tanda-tanda itu menunjukkan pada isinya.
Tanda-tanda ini menurut Jakobson merupakan sebuah sistem yang dinamakan kode,22
Roland Barthes dalam bukunya S/Z mengelompokkan kode-kode tersebut
menjadi lima kisi-kisi kode, yakni kode hermeneutik, kode semantik, kode simbolik,
kode narasi, dan kode kultural atau kode kebudayaan 23 .
2.3.4 Semiotika Ferdinand de Saussure
Semiologi menurut Saussure seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada
anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau
selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem pembedaan dan
konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda di sana ada sistem. 24
Menurut Saussure, seperti dalam pengertian Pradopo25 tanda sebagai kesatuan dari
dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Di mana ada
tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar)
mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier,
bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda
atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi
petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
Sedikitnya, ada lima pandangan dari Saussure yang dikemudian hari menjadi peletak
22
Sastra. Penerjemah l992: Dick Hartoko. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1982, hlm. :92
23
Barthes, Roland.. S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang, 1974, hlm. 106
24
Hidayat., 1998:26 Yogyakarta: Gadjahmada University Press, buku asli diterbitkan tahun 1973
25
Djoko Pradopo. Yogyakarta: Penerbit Gadjah Mada University Press, buku asli diterbitkan tahun 1985, hlm. 102
 47
dasar dari Strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang:
a. Signifier (penanda) dan Signinified (petanda)
Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda
linguistik atau tanda-tanda kebahasaan, yang biasa disebut juga ‘kata-kata’ . Tanda
menurut Saussure merupakan kesatuan dari penanda dan petanda. Walaupun penanda
dan petanda tampak sebagai entitas yang terpisah namun keduanya hanya ada sebagai
komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa. Artinya
kedua hal dari tanda itu tidak dapat dipisahkan. jika pemisahan berlaku maka hanya
akan menghancurkan ‘kata’ tersebut.
b. Form (bentuk) dan content (isi, materi)
Istilah form dan content ini oleh Gleason, diistilahkan dengan expression dan
content, satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. Saussure membandingkan
form dan content atau subtance itu dengan permainan catur. Dalam pemainan catur,
papan dan biji catur itu tidak terlalu penting.26 Yang penting adalah fungsinya yang
dibatasi, aturan-aturan permainannya. Jadi, bahasa berisi sitim nilai, bukan koleksi
unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistim itu ditentukan oleh perbedaannya.
c. Langue (bahasa) dan parole (tuturan dan ujaran)
Langue merupakan bahasa sebagai objek sosial yang murni, sebagai
seperangkat konvensi-konvensi sistematik yang berperan penting didalam
komunikasi. Langue merupakan institusi sosial yang otonom, yang tidak tergantung
pada materi tanda-tanda pembentuknya. Sebagai institusi sosial, langue bukan sama
26
Ahimsa-Putra, H.S., 2002:74, Tanda Simbol Budaya dan Ilmu Budaya, Makalah, Yogyakarta: Unit Pengkajian dan
Pengembangan Budaya.
 48
sekali bukan tindakan dan tidak bisa pula dirancang, diciptakan, atau diubah secara
pribadi, karena ia pada hakekatnya merupakan kontrak kolektif yang sungguhsungguh
harus dipatuhi bila kita ingin dipatuhi.
Parole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual, sebuah
tindakan individual. Parole dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan
subjek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran
pribadinya
d. Synchronic (sinkronik) dan diachronik (diakronik)
Sinkronik adalah sesuatu yang berhubungan dengan sisi statis dari suatu ilmu
adalah singkronik. Linguistik sinkronik memerhatikan relasi-relasi logis dan
psikologis yang memadukan terma-terma secara berbarengan dan membentuk suatu
sistim didalam pikiran kolektif. Penjelasan sinkronik mengenai kebudayaan dan
keterkaitan dengan struktur semesta. Kebudayaan adalah entitas yang menjadi bagian
dari rahasia semesta. Penjelasan ini kerap justru luput dari penjatian, sehingga
kebudayaan cenderung dianggap sebagai cerita isapan jempol belaka dalam
berkenaan dengan kejadian yang berlangsung pada masa lalu yang terbatas dengan
mengabaikan perkembangannya.
Linguistik diakronik dapat dibedakan menjadi dua sudut pandang, yakni
prospektif dan restorstif. Sudut pandang prospektif mengikuti majunya arus waktu,
sedangkan resrospektif berjalan mundur. Linguistik diakronis mengkaji relasi-relasi
yang secara suksesif mengikat terma-terma secara bersamaan, yang masing-masing
dapat saling bersubstitusi tanpa membentuk suatu sistim, namun tetap tidak disadari
oleh pikiran kolektif. Penjelasan mengenai eksistensi diakronik busana adat
 49
kebudayaan dalam konteks historisitas. Penjelasan ini dirasa perlu karena eksistensi
kebudayaan memiliki sejarah panjang yang akan menghantar pada kondisi munculnya
berbagai dongeng dan artefak budaya yang sedikit banyak banyak mengubah nilai itu.
e. Syntagmatik (sintagmatik) dan associative (paradigmatik)
Hubungan sintagmatis adalah hubungan di antara mata rantai dalam suatu
rangkaian ujaran. Hubungan sintagmatis disebut juga hubungan in praesentia karena
butir-butir yang dihubungkan itu ada bersama wicara. Dalam wacana, kata-kata
bersatu demi kesinambungan, hubungan yang didasari oleh sifat langue yang linear,
yang meniadakan kemungkinan untuk melafalkan dua unsur sekaligus.
Setiap mata rantai dalam rangkaian wicara mengingatkan orang pada satuan
bahasa lain. Dan, karena satuan itu berbeda dari yang lain dalam bentuk dan makna,
inilah yang disebut hubungan asosiatif atau paradigmatis. Hubungan asosiatif juga
disebut in absentia, karena butir-butir yang dihubungkan itu ada yang muncul, ada
yang tidak dalam ujaran. Asosiataif bersifat psikis: bisa berbicara dengan diri sendiri
tanpa mengamati bibir dan geraknya ketika seseorang berbicara. Contoh hubungan
asosiatif dalam kehidupan sehari-hari adalah terdapat dalam kata burung. Kata
“burung” ini bisa diasosiasikan sebagai alat kelamin laki-laki. Jadi, asosiasi
mengandung makna konotasi.
 50
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang
mendeskripsikan (menggambarkan) kenyataan yang ada dengan tujuan untuk
mengetahui perkembangan bahasa rupa dan maknanya antara motif busana adat
bundo kanduang dan motif hiasnya Sumatera Barat. Permasalahan dibatasi pada
perbedaan dan kesamaan poin penamaan, struktur motif menurut penempatan dan
perulangan posisi dan pola motif. Untuk melihat perkembangan dan pembuktian
hipotesa, diperlukan bandingan antara motif hias produk lama dan baru di setiap
jororng dan daerah penelitian. 33
Tipe penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif dan.
Penelitian Deskriptif hanyalah memaparkan kejadian atau peristiwa, penelitian ini
tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi.34 Penelitian deskriptif juga berkaitan dengan pengumpulan data untuk
memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala, yang menjawab
pertanyaan sehubungan dengan penelitian pada saat ini. 35
33 Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya, 2000,hlm. 24
34 Jalaludin Rahmat, Ibid
35
Sumtoma, Metode penelitian sosial dan pendidikan, 2000, hlm. 30

52
 51
Untuk melihat perkembangan dan pembuktian hipotesa, diperlukan
bandingan antara motif hias produk lama dan baru di setiap jororng dan daerah
penelitian.Perkembangan budaya Minangkabau tidak terlepas dari sejarah masuknya
pengaruh-pengaruh budaya luar yang telah ikut mempengaruhi adat dan seni kreasi
para seniman pekria Minangkabau.
Dengan begitu penelitian ini secara terperinci akan menyimpulkan informasi
Faktual yang menggambarkan gejala yang ada, mengindentifikasikasi isi
permasalahan-permasalahan yang ada.
3.2 Metode Penelitian
Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang
dapat diamati, penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan
sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam
kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya
dan dalam peristilahannya. Penelitian kualitatif yang mengkaji kualitas hubungan,
kegiatan, situasi, atau material disebut penelitian kualitatif, dengan penekanan kuat
pada deskripsi menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi
pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.
Metode semiotika, pada dasarnya beroperasi pada dua jenjang analisis.
Pertama, analisis tanda secara individual. Mencakup: jenis, struktur, kode, dan makna
tanda. Kedua, analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi. Yakni
perkembangan bahasa rupa yang membentuk makna didalamnya.
 52
Kelebihan analitik saussure dalam manfaat mempelajari Semiotik
sesungguhnya tidak saja sebagai pisau bedah dalam kritik bahasa rupa, namun juga
membantu masyarakat agar lebih peka dalam memahami konteks sosial budaya
dalam setiap proses perancangan.. Namun, menurut para pengguna Semiotik
keunggulan ilmu tanda ini justeru karena mampu menafsir atau membongkar
selubung ideologi dan “virus akal-budi” yang disembunyikan dalam pesan-pesan
visual secara tersamar tanpa dapat dilacak oleh ilmu-ilmu sains yang eksak dan
kuantitatif. Misalnya saja, bagaimana membongkar adanya “virus” diskriminasi
jender dalam pesan yang disampaikan melalui iklan-iklan, bahasa rupa, dan media
massa.
3.3 Unit Analisis
Pada penelitian ini yang akan dijadikan unit analisis atau narasumber ada
lah gambar dan visual bahasa rupa busana Bundo Kaduang yang diperoleh dari
Museum dan resepsi pernikahan Minangkabau sebagai objek penelitian. Dalam
keseluruhan perkembangan busana bundo Kandung dari zaman ke zaman busana adat
minang tersebut.
Dengan mengambil gambaran busana adat sebagai berikut :
a. Tahun 2000 busana adat yang disederhanakan dengan kualitas
kemewahan. Perubahan ragam hias dari warna Merah, Hitam dan Emas
dan berkembangng menjadi warna silver (perak) pada desain kain-kain
busana tradisi di Koto besar menunjukkan perkembangan: struktur busana
asli cendrung disederhanakan teknik hias milik seni pribadi untuk
persyaratan adat tetap dipertahankan, perkembangan pada bahan dan
 53
warna cendrung mengikuti zaman; motif asli pada songket cendrung
beralih kemotif Pandai sikek;
3.4 Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data akan dilakukan melalui Depth Observation (pengamatan
mendalam) yakni teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan
secara mendalam mengenai semiotika dan gambaran pada busana adat tentang desain
busana Bundo Kanduang, memilihnya dengan kategori tertentu yang mendekati
konsep penelitian. Data tersebut adalah yang mengadakan resesi pernikahan Busana
adat Bundo Kanduang
3.4.1 Data Primer
Data primer diperoleh dari observasi langsung pada perkembangan bahasa
rupa dan makna busana adat Koto gadang yang dimiliki masyarakat, museum, dan
pengamatan proses upacara. Data primer yang akan digunakan oleh penulis dalam
penelitian ini di antaranya dengan mengumpulkan gambar dan rupa busana Bundo
Kanduang, yang diperoleh peneliti dengan pengamatan proses upacara dan
perkembangan busana yang dimiliki masyarakat.
3.4.2 Data Sekunder
Dalam pengumpulan data sekunder, penulis mengumpulkan data-data secara
lengkap dalam penyusunan dan penulisan skripsi melalui metode sebagai berikut :
1. Studi Kepustakaan
Yaitu suatu metode pengumpulan data-data yang berasal dari literaturliteratur
dan sumber tertulis lainnya yang berhubungan dengan kajian
desain busana adat, agar dapat dijadikan dasar pemikiran dalam
 54
penyusunan dan penulisan skripsi.
2. Wawancara
Yaitu suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara tanya
jawab atau tatap muka secara langsung dengan responden yang terkait
untuk memperoleh data subjek yang di cari. Dan kemudian berkaitan erat
dengan permasalahan yang akan dibahas dalam hal ini penulis melakukan
tanya jawab dengan pihak yang berkaitan dengan objek yang akan penulis
teliti.
a. Pengamatan
Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan langsung
pada objek permasalahan untuk memperoleh data primer dari
observasi langsung pada kain-kain busana adat koto gadang yang
dimiliki masyarakat, ke museum dan memperhatikan pengamatan
proses upacara.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan pendekatan analisis Saussure dalam wacana linguistik, maka bila
melihat konsep semiotika Saussure, berarti tidak melepaskan dari pandangannya
tentang bahasa. Menurutnya, bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang
mengungkapkan ide-ide, atau bahasa ini juga dapat dipersamakan dengan sistem
bahasa tulisan, bahasa rupa, symbol ritus-ritus, simbol kesopanan-santuan atau adat,
tanda-tanda dari busana adat dll. Hal ini mengisyaratkan bahwa sistem bahasa bukan
 55
saja mengacu pada bahasa oral (berkenaan dengan bahasa), namun juga mencakup
pada sistem kebahasaan lainnya yang bersangkutan dengan sosio budaya dari
kehidupan manusia.
Analisis Semiotika Saussure berupaya mempertautkan hubungan antara busana
adat dan keberadaan struktur sosial. Analisis Saussure menguji kandungankandungan
pesan busana adat, bagaimana bahasa dikaji, dan bagaimana makna yang
dapat dimunculkan dari busana adat Minang. Bagian berikut akan sedikit
mengetengahkan gagasan-gagasan semiotis yang dikemukakan oleh seorang penganut
Saussure dari Perancis.
 56
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Bab ini akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap busana
adat yang dipilih yakni busana adat Bundo kanduang. Dari apa yang dijelaskan pada
bab Metodelogi penelitian, Analisis ini dilakukan terhadap melihat Perkembangan
bahasa rupa dan Maknanya pada busana adat Bundo kanduang di Sumatera barat.
4.1 Upacara Adat
Dalam tiap masyarakat dengan susunan kekerabatan bagaimanapun,
perkawinan memerlukan penyesuaian dalam banyak hal. Perkawinan menimbulkan
hubungan baru tidak saja antara pribadi yang bersangkutan, antara marapulai dan
anak daro tetapi juga antara kedua keluarga. Latar belakang antara kedua keluarga
bisa sangat berbeda baik asal-usul, kebiasaan hidup, pendidikan, tingkat sosial, tata
krama, bahasa dan lain sebagainya.
Setelah itu syarat utama yang harus dipenuhi dalam Upacara adat bundo
kanduang, lebih kepada kesediaan dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari
masing-masing pihak. Pengenalan dan pendekatan untuk dapat mengenal watak
masing-masing pribadi dan keluarganya penting sekali untuk memperoleh keserasian
atau keharmonisan dalam pergaulan antara keluarga kelak kemudian. Upacara adat
bundo kanduang juga menuntut suatu tanggung jawab, antaranya menyangkut nafkah
lahir dan batin, jaminan hidup dan tanggung jawab hingga, pendidikan anak-anak
yang akan dilahirkan.
 57
Bahwa pakaian yang dipakai bundokanduang budaya Minang sekarang
tergantung kepada tata cara upacara adat, maka pemakai upacara adat bundokanduang
tersebut seperti :
4.1.1 Tata cara busana Bundo kanduang
Cara dan gaya berpakaian perempuan busana adat sangat tergantung kepada
selera pemakainya. Dari cara dan gaya tersebut kapan dan dimana saja mereka
gunakan?. Penempatan pakaian adat bagi perempuan Minangkabau bukan sembarang
dipakai saja (bukan sesuka hati memakainya), tetapi diatur sesuai dengan waktu dan
tempat pemakaiannya seperti, pakaian dirumah tidak cocok untuk dibawa ke pesta,
atau kepasar, begitu juga dengan pakaian adat, sangatlah janggal bila dipakai pada
waktu tidak ada upacara adat, begitu juga dengan dengan pakaian pesta tidak cocok
untuk dipakai pergi ta’ ziah.
Dalam melaksanakan tata cara busana bundo kanduang ini bundokanduang
didandani dengan busana khusus yang disebut baju tokah dan bersunting rendah.
Tokah adalah semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada sehingga
bagian-bagian bahu dan lengan nampak terbuka. Untuk serasi dengan suasana, maka
orang-orang yang hadir biasanya juga mengenakan baju-baju khusus. Teluk belanga
bagi pria dan baju kurung ringan bagi wanita, begitu juga ayah bunda dari calon anak
daro. Disamping itu biasanya juga disiapkan beberapa orang teman-teman sebaya
anak daro yang sengaja diberi berpakaian adat Minang untuk lebih menyemarakkan
suasana.
Dilihat dari waktu pemakaiannya, tata cara pakaian adat ini dapat
klasifikasikan kepada beberapa macam antara lain :
 58
a. Tata cara penyambutan
Dua orang yang jadi juru bicara untuk sambah manyambah (persembahan)
boleh berpakaian yang sama dengan keluarga. Yaitu pakai sarung dan berkemeja
dilapisi jas diluarnya. Yang penting kepalanya harus tertutup dengan kopiah hitam.
Boleh juga dikanakan busana model engku damang atau yang sekarang juga sering
disebut sebagai jas dubes. Atau kalau dia hanya memakai kemeja dan pantalon biasa,
maka dilehernya harus dikalungkan kain palekat yang kedua ujungnya terjuntai ke
dada. Sedangkan kepala harus memakai kopiah. Untuk pemuda-pemuda penari
gelombang, busananya adalah baju silat biasa dengan celana galembong tapak itiak
berkain samping dipinggang dan destar dikepala. Sedangkan untuk dara-dara
limpapeh rumah nan gadang yang membawa sirih, mengenakan baju kurung dalam
berbagai variasi menurut daerah masing-masing. Hiasan kepala dapat berupa suntiang
gadang atau hiasan kepala yang ringan seperti sunting rendah atau sunting ringan
lainnya yang beraneka ragam terdapat diberbagai daerah di Sumatera Barat.
Mengingat gadis-gadis ini dalam acara penyerahan sirih juga akan menari, maka
seyogyanya pakaian yang dikenakan jangan terlalu berat sehingga menyusahkan
untuk dibawa melenggang atau membuat sipenari tampak garebeh-tebeh.
b. Pertukaran tanda (Batimbang Tando) Bundo kanduang
Batimbang tando adalah upacara pertunangan. Saat itu dilakukan pertukaran
tanda bahwa mereka telah berjanji menjodohkan anak kamanakan mereka. Setelah
pertunangan barulah dimulai perundingan pernikahan.
Budaya batimbang tando ini sebenarnya adalah sebagi ungkapan simbolis
bahwa seseorang yang telah bertukar tanda, biasanya dalam bentuk cincin tidak
 59
diperbolehkan lagi bergaul secara bebas dengan wanita atau laki-laki lain. Budaya ini
berfungsi dalam menepis kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah yang bertukar-tukar
pasangan, gemar mengganggu wanita lain dan sebagainya. Biasanya seseorang yang
telah bertukar tanda akan merasakan ikatan moral untuk lebih setia kepada
pasangannya.
Internalisasi fungsi bertukar tanda ini akan berakibat pada lebih
terkungkungnya potensi pergaulan bebas yag terjadi dalam masyarakat muda pada
khususnya.
c. Urutan Acara
Pembicaraan dalam acara maminang dan batuka tando ini berlangsung antara
mamak atau wakil dari pihak keluarga si gadis dengan mamak atau wakil dari pihak
keluarga pemuda. Bertolak dari penjajakan-penjajakan yang telah dilakukan
sebelumnya ada empat hal secara simultan yang dapat dibicarakan, dimufakati dan
diputuskan oleh kedua belah pihak saat ini.
Namun menurut yang lazim dikampung, jika acara maminang itu bukan
sesuatu yang sudah direkayasa oleh kedua keluarga sebelumnya, maka acara ini akan
berlangsung berkali-kali sebelum urutan ketentuan diatas dapat dilaksanakan. Karena
pihak keluarga pemuda pasti tidak dapat memberikan jawaban langsung pada
pertemuan pertama itu. Orang tuanya atau ninik mamaknya akan meminta waktu
terlebih dahulu untuk memperembukkan lamaran itu dengan keluarga-keluarganya
yang patut-patut lainnya. Paling-paling pada pertemuan tersebut, pihak keluarga
pemuda menentukan waktu kapan mereka memberikan jawaban atas lamaran itu.
 60
Acara maminang yang berlangsung dikota-kota umumnya sudah dibuat
dengan skenario yang praktis berdasarkan persetujuan kedua keluarga, sehingga
urutan-urutan seperti yang dicantumkan diatas dapat dilaksanakan secara simultan
dan diselesaikan dalam satu kali pertemuan.
4.2 Budaya Adat Manusia Pada Tahun 2000
Gambar 4.1 Budaya Adat Global Pada Tahun 2000
Transformasi budaya adat manusia milenium dari kota konvensional, kearah
kota kapitalistik dan kini ke arah kota digital, telah merubah pula bersamanya
manusia yang hidup didalamnya. Wajah manusia abad Milenium merupakan cermin
dari wajah kotanya, dan sebaliknya. Manusia membangun dan merubah budaya, dan
bersama perubahan itu berubah pula wajah manusianya. Wajah abad Milenium itu
kini cenderung mengglobal. Artinya, ada kecenderungan homogenitas
(homogenization) wajah kota dunia, yang kini tampak semakin seragam, sama,
identik, dan ikonis. Homogenisasi wajah budaya itu, tidak saja telah menggiring pada
homogenisasi budayanya yang kini dijajah oleh budaya berwarna silver dan ingin
lebih menonjolkan modernisme akan tetapi, yang lebih penting lagi telah mendorong
 61
wajah budaya abad Milenium yang cenderung sama di kota manapun ia hidup dalam
skala global. Budaya adat manusia milenium itu secara umum adalah 36 :
Pertama, manusia ekonomi. Hubungan antar manusia di dalam system
ekonomi adalah hubungan fungsional bukan sosial, hubungan professional bukan
kekerabatan. Segala sesuatu diukur berdasarkan prinsip kalkulasi ekonomi, bukan
sosial. Didalamnya waktu adalah uang, ruang adalah uang, jabatan adalah uang.
Relasi manusia di redusir menjadi relasi ekonomi. Nilai manusia menjadi nilai
ekonomi atau nilai tukar. Di dalamnya, prinsip tolong-menolong mengalami deviasi
menjadi bersifat komersial. Keramahan kini menjadi keramahan komersial.
Gambar 4.2 Budaya Adat Global Pada Tahun 2000
Kedua, manusia individualis. Manusia ekonomi menjadi manuasia yang
melihat kepentingan ekonomi diatas kepentingan sosial. Ia menjadi manusia yang
mengutamakan ego ketimbang kolektivitas, yang mencintai diri sendiri ketimbang
masyarakat. Semangat kolektivisme digantikan oleh semangat individualisme.
Kehidupan sehari-hari dikota-kota besar di Indonesia masa abad kini memperlihatkan
kecenderungan semacam ini.
36
Yasraf Amir Piliang, 2006: hlm 477 “Dunia yang dilipat Tamasya Melampaui batas-batas Kebudayaan” Yogyakarta & Bandung : Jalasutra.
 62
Ketiga, Manusia kebendaan. Didalam sebuah kota yang dibangun
berlandaskan prinsip ekonomi, manusia dikuasai oleh materi. Di dalamnya, ada
kemenangan objek atas subjek. Ada pembiakandan pertumbuhan supremasi objek
atas subjek, yang dalam pembiakannya diluar kendali, subjek takluk pada objek.
Eksistensi manusia kini tidak bisa dilepaskan dari peran objek sebagai perumus
eksistensi. Manusia memperlihatkan eksistensinya lewat kepemilikan objek-objek
(status, prestise, kelas). Manusia terkurung dalam budaya permukaan, penampakan,
gaya hidup, citra yang membangun budaya benda (material culture)
Keempat, manusia tanda. Disebabkan eksistensi manusia sangat ditentukan
oleh fungsi benda atau objek dalam membangun indentitasnya, maka dunia objek
menjadi penentu relasi sosial, semacam mistifikasi, yang didalamnya kepemilikan
objek sebagai tanda mendefinisikan status sosial seseorang. Objek kemudian menjadi
tanda-tanda sosial, yang memberikan makna sosial bagi orang yang memilikinya.
Tawaran citra gaya busana elit yang marak dikota-kota besar di Indonesia
memperlihatkan kecenderungan homo-semioticus semacam ini.
Kelima, manusia citraan. Meskipun citra tidak hanya dipentingkan di abad
milenium, akan tetapi pertumbuhan dan pembiakan citra dikota melebihi ditempat
lainya (misalnya desa). Eksistensi kota sangat bergantung pada eksistensi citraan
yang membangunnya. Dalam dominasi citra atas realitas kehidupan sosial, eksitensi
manusia di kota diredusir menjadi ontologi citraan. Manusia berlomba-lomba menjadi
citraan (masuk televisi, menggunakan produk bercitra gaya hidup) dalam rangka
menemukan eksitensinya.
 63
Keenam, manusia informasi. Keberadaan kota tidak bisa dipisahkan dari
informasi yang membangunnya. Akan tetapi di dalam kota modern (post modern)
informasi menjadi bersift mutlak. Artinya, eksitensi kota sangat menggantungkan
diripada keberadaan informasi (radio, televisi, internet).desa tanpa informasi masih
bisa hidup, tetapi kota modern tanpa informasi menjadi kota mati.
4.3 Analisa Semiotika Busana Adat Minang
Gambar 4.3 Busana Adat Tahun 2000
Perubahan ideologi busana adat berakibat kepada perubahan struktur sosial
yang signifikan. Segala sesuatu yang semula dita’ ati dan menjadi kebanggaan lokal
mulai tergilas oleh konsep baru yang mengacu kepada pikiran abad budaya
Milenium. Pakaian Minangkabau yaitu baju kurung yang bernuansa religius mulai
tergeser lalu beranjak mengikuti arus perkembangan sehingga muncul berbagai model
pakaian tahun 2000-an, mulai terjadi peralihan gaya rias dan mode pakaian di
Sumatera Barat, pada waktu itu Busana adat bundo kanduang mulai dipakai dengan
warna silver sekelompok kecil perempuan, pada saat yang sama berkembang pula
 64
gaya pakaian kebaya yang terlihat pada gambar (a) lebih ketat dan meperlihatkan
lekukan tubuh oleh busana adat Bundokanduang tersebut.
Makna busana adat tahun 2000, dalam pengertian modern adalah bahasa
rupa yang dihasilkan dari rasionalitas. Dilandasi pengetahuan, bersifat rasional, dan
pragmatis. Jagat makna busana adat tahun 2000, senantiasa dinamis, penuh corak, dan
juga perubahan. Hal itu karena peradaban dan ilmu pengetahuan modern
memungkinkan lahirnya industrialisasi. Sebagai produk bahasa kebudayaan yang
terkait dengan sistem sosial dan ekonomi, busana adat kini berhadapan pada
konsekuensi sebagai produk massal dan konsumsi massa.
Hingga, sebagai makhluk yang hidup di dalam masyarakat dan selalu
melakukan interaksi dengan masyarakat lainnya tentu membutuhkan suatu alat
komunikasi agar bisa saling memahami tentang suatu hal. Apa yang perlu dipahami?
Banyak hal salah satunya adalah tanda busana adat tahun 2000. Supaya tanda itu bisa
dipahami secara benar dan sama membutuhkan konsep yang sama supaya tidak
terjadi misunderstanding atau salah pengertian.
Analisa tanda lahiriah busana adat bundo kanduang pada tahun 2000
merupakan suatu hasil pengamatan secara teknik dapat ditransformasikan kedalam
bentuk catatan dari beberapa jenis bahasa rupa, busana adat dan penerapannya.
Namun dalam struktur bathiniah ragam hias tersebut merupakan suatu penemuan dari
kemampuan pengkajian dalam menentukan adanya suatu konstruksi berpikir sebuah
masyarakat Minang yang berani memperlihatkan lengkukan tubuh dan sebagaian
masih mengikuti perkembangan tataran busana adat. Jika tanda dan bahasa rupa yang
 65
digambarkan tersebut, maka struktur itulah yang menuntun seluruh pola, tingkah laku
termasuk pola kreatifitas seniman pada menggeliatnya masa Milenium ketika itu.
Berdasarkan tanda gambar dan tanda visual, kita bisa menangkap pesan
pakaian adat bundo kanduang tersebut dengan produk jaman ketika itu. Namun,
pakaian adat tahun 2000 adalah pakaian bahasa rupa yang diserderhanakan,
bercirikan kemewahan dan warnanya lebih berani dengan menunjukan warna silver
(perak) dengan terbawa arus pada masa Milenium. Melihat gambar tersebut, analisis
semiotika sebagai pendekatan meninjau karya adalah dengan melakukan otokritik
terhadap karya-karya yang dibuat. Unsur kritik dalam meninjau karya adalah
mengkomunikasikan (deskripsi), yaitu menyebutkan, mencatat dan melaporkan hal
yang tersaji secara langsung yang tampak melalui penglihatan mengenai wujud
busana adat pada masa perubahan zaman dari abad 19 ke abad 20-an.
Seperti terlihat pada ragam hias busana pada gambar visual diatas itu yang
juga dikenal sebagai perkembangan busana adat pada masa milenium, busana
kontemporer ini merupakan sebuah bentuk pengembangan busana adat Minang yang
dibikin lebih simpel namun berkesan mewah.
Hingga, karya dari warisan leluhur ini pun mampu tampil dalam
kemewahan masa kini lewat sentuhan kontemporer. Seperti busana adat pada tahun
2000 yang didesain sedemikian rupa tanpa meninggalkan ikatan dan tetap memiliki
benang merah dengan aslinya, mampu menjadi daya tarik tersendiri. Kaidah-kaidah,
dari yang bentuknya rata menjadi lebih panjang, dengan di bagian bawah ditambah
untaian manik-manik yang berkesan glamor. Sedangkan selendang dua warna diganti
 66
dengan perak. Untuk tapih atau sarung, biar lebih simpel diganti dengan rok lurus di
tutup dengan tambahan rok luar namun tetap menggunakan motif seperti aslinya.
Pada busana adat minang tahun 2000 pun tak luput mendapat perhatiannya
para pemakai, dari sudut pandang seperti :
a. Perbedaan Bahasa Rupa Busana Adat Tahun 2000
Salah satu menganalisis cara untuk melihat bagaimana identitas bahasa rupa
busana adat dikonstruksi adalah dengan cara melihat keterkaitannya dengan identitas
bahasa rupa yang lain, dengan “busana sebelumnya” atau dalam kacamata ‘yanglain’
: yaitu, dalam hubungannya dengan apa yang bukan aslinya. Bentuk yang paling
umum ditemukan dengan model seperti ini adalah oposisi biner (prinsip pertentangan
diantara dua istilah berseberangan dalam strukturalisme). Teori bahasa dari Ferdinand
de Saussure mempertahankan model oposisi biner pola semacam ini bentuk paling
ekstrem dari menandai perbedaan karena dianggap bersifat esensial dalam hal
produksi makna. Bagian busana adat tahun 2000, sekarang ini melihat pandangan
dalam membahas tentang perbedaan, khususnya produksinya lewat oposisi biner yang
melihat pada masa tersebut. Hingga istilah atau gagasan ‘perbedaan’ pakaian busana
adat ini sudah merupakan bagian tidak untuk memahami konstruksi identitas secara
kultural dan sudah diadopsi oleh banyak ‘gerakan sosial baru’ yang sudah memasuki
Era milenium.
Karena perbedaan bisa dilihat secara negatif seperti eksklusi (pengecualian)
atau marjinalisasi (peminggiran) mereka yang didefinisikan sebagai ‘yangsebelumnya’
atau ‘orang asing’ . Di sisi lain, perbedaan juga bisa menjadi sumber
keanekaragaman, heterogenitas, dan hibriditas (perkawinan silang), di mana
 67
pengakuan akan perubahan dan perbedaan dilihat sebagai hal yang memperkaya;
seperti contohnya dalam kasus gerakan sosial yang mau memperjuangkan identitas
zaman yang berbeda dan merayakan perbedaan lepas dari kekangan-kekangan norma
yang berlaku (contohnya: dengan gembira mengaku bahwa dirinya seorang
modernisme).
 Gambaran yang umum, dijumpai di kebanyakan sistem pemikiran adalah
kesetiaannya pada model dualisme di mana perbedaan, yang menjadi pokok dalam
hal makna, diekspresikan dalam istilah-istilah yang saling bertentangan—
alam/budaya, tubuh/pikiran, hasrat/nalar. Mereka yang mengkritik pola oposisi biner
ini akan berargumen bahwa kedua istilah yang saling berlawanan ini ditimbang secara
berbeda (berat sebelah) sehingga unsur yang satu dalam dikotomi ini dinilai secara
lebih atau dianggap lebih berkuasa daripada unsur yang satunya. Karena itulah maka
filsuf Perancis terkemuka, Jacques Derrida berpendapat bahwa kekuasaan bekerja di
antara dua peristilahan yang terlibat dalam sembarang oposisi biner dengan
sedemikian rupa sehingga ada ketidakseimbangan kekuasaan di antara kedua
peristilahan itu yang sifatnya niscaya. Satu dikotomi yang paling dominan dan
tersebar luas adalah antara alam (nature) dan budaya (culture).
b. Analisa Budaya
Khazanah budaya daerah memberi sumbangan besar terhadap apresiasi seni
masyarakat. Termasuk juga busana adat Minang yang memiliki banyak simbol dan
perlambang luhur. Keagungan nilai-nilai warisan budaya leluhur ini pun turut serta
meramu ragam hias, bahasa rupa Tanah Air dan menjadikan mode semakin
 68
bervariasi. Banyak pula cara yang dilakukan berbagai kalangan untuk lebih
meningkatkan pengetahuan dan kecintaan terhadap hasil karya budaya daerah. Salah
satunya dengan mengembangkan busana adat yang diberi sentuhan modern.
Di antara busana adat Minang adalah busana Bundo kanduang dan busana
penghulu. Dua nama busana adat tersebut acap kali ditampilkan dalam perhelatan
atau perayaan dan penyambutan tamu. Keduanya pun memiliki keunikan tersendiri
tak hanya dari gerak dan musik, tapi juga tampak dalam balutan ragam hias busana
dan filosofis bahasa rupanya. Produk seni tradisional merupakan warisan masyarakat
budaya mitis, memiliki estetikanya sendiri yang berbeda dengan estetika seni budaya
modern yang ontologis.
Produk seni tradisional, termasuk desain atau kriya dalam bentuk pakaian adat
dan perlengkapan, senantiasa memiliki kaitan makna dengan kosmos atau alam yang
lebih luas. Dengan begitu, pakaian adat dan perlengkapan dibuat selain dengan
bentuk yang memenuhi aspek semangat juga dengan bentuk yang memiliki makna
kosmologis.
Untuk melihat perkembangan dan pembuktian hasil penelitian, diperlukan
bandingan antara ragam hias produk lama dan baru di setiap jorong (daerah) dan
daerah penelitian. Perkembangan budaya Minang kabau tidak terlepas dari sejarah
masuknya pengaruh-pengaruh budaya luar yang telah ikut mempengaruhi adat dan
seni kreasi para seniman pekria bahasa rupa Minang kabau.
Setiap budaya mempunyai cara menggolongkan dunianya sendiri-sendiri.
Lewat sarana sistem-sistem penggolongan, budaya memberikan kepada kita alat atau
sarana untuk membuat dunia sosial menjadi dipahami dan untuk mengkonstruksi
 69
sejumlah makna. Namun harus tercapai kesepakatan lebih dulu antar anggota
masyarakat tentang bagaimana menggolongkan hal ini supaya tatanan sosial tetap
terjaga. ‘Sistem-sistem makna yang dihayati oleh sekelompok orang’ inilah yang kita
sebut sebagai analisa ‘budaya’
c. Identitas dan subjektivitas
Istilah identitas dan subjektivitas cukup sering digunakan dalam cara-cara
yang membuat orang berpikir bahwa kedua istilah ini bisa saling dipertukarkan.
Padahal, kenyataannya ada sejumlah pengertian yang tumpang-tindih di antara
keduanya. indentitas meliputi ‘ciri khusus seseorang; jati diri’ . Subjektivitas
mencakup pikiran dan emosi dari alam sadar maupun alam bawah sadar yang menjadi
penyusun dari ‘kedirian’ kita dan perasaan-perasaan yang dibawa ke dalam aneka
macam posisi dalam budaya. Subjektivitas juga melibatkan perasaan-perasaan dan
buah-buah pikiran kita yang paling dalam. Namun kita mengalami subjektivitas kita
dalam sebuah konteks sosial di mana bahasa dan budaya memberikan makna pada
pengalaman kita akan diri kita dan di mana kita lalu mengadopsi sebuah identitas.
Wacana (discourses), apapun perangkat makna yang mereka buat, hanya bisa
menjadi efektif jika mereka merekrut subjek-subjek. Gugus subjek ini dengan
demikian dikebawahkan (harus tunduk pada) wacana dan menganggap diri mereka
memang mengambil posisi sedemikian rupa. Posisi yang kita ambil dan kita peluk
(identifikasi) menyusun apa yang kita sebut identitas. Subjektivitas meliputi dimensidimensi
bawah sadar dari diri dan menyiratkan adanya kontradiksi dan perubahan.
Subjektivitas bisa bersifat irasional namun bisa juga rasional. Kita bisa menjadi
 70
manusia yang berpikiran jernih, rasional, namun adakalanya kita harus tunduk pada
kekuatan-kekuatan yagn berada di luar kontrol kita. Konsep subjektivitas
memungkinkan kita untuk menjelajahi dunia perasaan dan keterlibatan pribadi yang
dibuat dalam kaitannya dengan posisi identitas dan alasan-alasan mengapa kita
cenderung terikat pada sejumlah identitas tertentu.
d. Mitos
Umumnya masyarakat tradisional menyalurkan perasaan hati melalui sebuah
perantara, sebab masyarakat tradisional belum mengenal apa yang disebut basa tulis.
Agar pendidikan terus berlangsung, masyarakat tempo dulu menciptakan apa yang
dinamakan dengan mitos yang mana akademisi sekarang menyebutnya dengan
folklore. Mitos sebagai sarana pendidikan terus disalurkan dari mulut ke mulut
sehingga mitos tersebut diwarisi turun temurun bahkan sampai sekarang
Cerita rakyat seperti ini sangatlah unik, baik dari filosofi maupun dari makna
yang diusungnya. Para sejarahwan mengatakan bahwa mitos adalah cerita rekaan
belaka. Artinya, fakta sejarah yang mendukung kahadirannnya sama skali kurang atau
tidak ada. Namun, sebagai sarana pengusung pesan di dalam mitos terdapat proses
pembelajaran, meskipun berkembang dari mulut ke-mulut, tetapi akhir-akhir ini
fungsi tersebut tidak begitu menonjol bahkan lebih diarahkan untuk hiburan belaka.
Sebab, lambat laun masyarakat kita tidak lagi memandang mitos sebagai aset yang
berharga bagi pembentukan kepribadian sesorang. Hal ini, mungkin disebabkan
semakin majunya pendidikan di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat sekarang juga
butuh fakta yang berangka tahun, sehingga cerita seperti mitos sering ini tidak
dipercayai.
 71
Ideologi yang tersembunyi di balik mitos. Ungkapan ini ada benarnya, suatu
mitos menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam
ketidaksadaran representator (dapat mewali). Ketidaksadaran adalah sebentuk kerja
ideologis yang memainkan peran dalam tiap representasi. Mungkin ini bernada
paradoks, karena suatu tekstualisasi tentu dilakukan secara sadar, yang dibarengi
dengan ketidaksadaran tentang adanya sebuah dunia lain yang sifatnya lebih
imaginer. Sebagaimana halnya mitos, ideologi pun tidak selalu berwajah tunggal.
Ada banyak mitos, ada banyak ideologi; kehadirannya tidak selalu kontintu di dalam
teks. Mekanisme kerja mitos dalam suatu ideologi adalah apa yang disebut Barthes
sebagai naturalisasi sejarah. Suatu mitos akan menampilkan gambaran dunia yang
seolah terberi begitu saja alias alamiah. Nilai ideologis dari mitos muncul ketika
mitos tersebut menyediakan fungsinya untuk mengungkap dan membenarkan nilainilai
dominan yang ada dalam masyarakat.
Dalam analisa semiotika, semua bentuk dan isi bahasa rupa busana adat pada
dasarnya adalah tanda. Suntiang gadang adalah tanda, baju kurung adalah tanda, kain
sarung atau kodek adalah tanda, bahkan ragam hias itu sendiri juga merupakan tanda.
Banyak sekali bentuk perhiasan yang bisa mengungkapkan jatidiri si pemakai,
misalnya mahkota kerajaan atau Ratu Elizabete dari masyarakat Inggris yang biasa
dikenakan oleh keluarga kerajaan, kalung Kalabubu dari Pulau Nias, yang
menunjukkan bahwa pemakainya adalah orang pemberani, dan masih banyak lagi.
Namun, bentuk ragam hias busana adat Minang bundo kanduang dalam
pemakaian materialnya dan ragam hias kedalam bentuk busana tahun 2000 dengan
perkembangannya, seperti :
 72
4.3.1 Bahasa Rupa pada Suntiang Bundokanduang 2000

Gambar 4.4 Suntiang Bundokanduang 2000
Berdasarkan analisa bentuk pemakaian suntiang gadang ini melambangkan
bahwa perempuan sebagai pemilik tanggung jawab keluarga yang diberikan tanda
dengan beban di kepala. Tanda yang ditimbulkan oleh suntiang gadang adalah tandatanda
yang digunakan sebagai alat komunikasi yang di hasilkan pesan, lalu di ikuti
dengan lambang, misalnya suntiang untuk para bundokanduang, di mulai dari deret
lima dilambangkan dengan makna rukun islam.
Ragam pencapai pribadi melaui bentuk, memunculkan adanya rupa-rupa yang
digandrungi perupanya sendiri pada suntiang tahun 2000. Perjalanan perupa yang
berbasis pada kepekaan intuisi, indera dan intelektual pada masa itu, menangkap
objek yang imajiner, mesti ditebar melalui sentuhan ekspresi lewat ragam warna
silver maupun medium yang disenanginya. Itu semua untuk tercapainya kualitas
identitas, yang bisa memberi pemahaman posisi antara rupa karya dan perupanya
merupakan kemanunggalan dalam virus berwarna perak.
Dari pemahaman tanda gambar di atas dapat dijelaskan bahwa warna yang
biasa berwarna berlapis emas kini ada perubahan warna menjadi perak, selain hanya
 73
dapat dilihat dengan warna perak ternyata mampu mempengaruhi seseorang,
mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada
sesuatu benda saat itu. Warna perak, sebagai warna yang cerah dengan sendirinya
menjadikan lambang untuk sifat pembaharuan dan juga kemewahan.
a. Pernik Rumah Gadang
Gambar 4.5 (a) Pernik Rumah Gadang
Pernik suntiang rumah gadang terletak diatas kepala suntiang Bundokanduang
Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas
atau loyang sepuhan. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan
sebagai pemilik rumah gadang. Suntiang anak daro dan suntiang tersebut
melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk
melanjutkan keturunan dan adatnya ini berfungsi religius bagi pemakainya, sebagi
simbol meletakkan sesuatu beban di kepala dalam pengertian seperti tanggung jawab
keluarga dan terhadap keturunannya bagi kaum dan adat Minang kabau.
 74
b. Pernik Suntiang Gadang
Gambar 4.6 (b) Pernik Suntiang Gadang
Penyusunan kembang-kembang pernik suntiang gadang ini diatas kepala
pengantin wanita mengikuti deret ganjil. Paling tinggi sebelas tingkat, dan paling
rendah tujuh tingkat. Sedangkan sunting untuk para pasundan, dimulai dari deret lima
sampai tiga. Penyerderhanaan suntiang dari minimal tujuh menjadi enam semakin
tampak pada suntiang anak daro dan suntiang tersebut melambangkan tanggungjawab
yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan ini berfungsi
religius bagi pemakainya, sebagi simbol meletakkan sesuatu beban di kepala dalam
pengertian seperti tanggung jawab keluarga dan terhadap keturunannya.
c. Pernik suntiang gadang
Gambar 4.7 (c) Pernik Suntiang Gadang
 75
Pernik suntiang gadang, memiliki karakter pernik dari cina yang sama. Dalam
hal bentuk, pernik suntiang gadang lebih sebagai suatu bentuk dari penjelasan atas
kumpulan manik-manik. Dalam kepercayaan budaya minang, pernik suntiang gadang
itu adalah tanggung jawab yang di emban seorang bundokanduang itu sendiri.
4.3.2 Bahasa Rupa pada Baju Kurung Tahun 2000
Gambar 4.8 Baju Kurung Tahun 2000
Baju yang dipakai oleh Bundo Kanduang dalam upacara adat di tahun 2000,
ada sebuah penyederhanaan pada kain yang terbuat dari sutra membuat pengaruh
cina; teknik sulaman terawang benang makau diganti dengan renda minsie dan
jumlah hiasan dikurangi dari tiga menjadi dua, kain kambang cino difungsikan untuk
salempang baju gadang disebut baju kurung yang melambangkan bahwa ibu tersebut
terkurung oleh undang-undang yang sesuai dengan agama dan adat di Minangkabau.
Baju kurung ini diberi hiasan sulaman benang perak dengan motif bunga kecil yang
disebut tabua atau tabur. Warna baju kurung yang setiap daerah, seperti hitam, merah
 76
tua, ungu atau biru tua. Dan temuan peneliti ada warna baru yang ditimbulkan pada
periode tahun 2000 dengan motif warna keperakan (silver).
Hiasan bahasa rupa pada busana adat baju kurung bunga-bunganya yang
terbuat dari lempengan-lempengan loyang kecil berwarna perak (yang bukan lagi
berwarna emas) dijahitkan bertabur di sekitar baju. Motif lempengan itu bermacammacam.
Ada yang berbentuk bunga, kupu-kupu atau wajik-wajik dan lain-lain
sebagainya dalam ukuran kecil
Berdasarkan analisa yang dilakukan peneliti pada penanda dan petanda
pakaian busana adat. Saussure menampilkan tiga istilah dalam analisa ini, yaitu tanda
bahasa (sign), penanda (signifier), dan petanda (signified). Menurutnya, setiap tanda
bahasa mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan, karena masing-masing saling
membutuhkan. Maka dengan demikian, gagasan strukturalisme Saussure lebih
menekankan pada aspek linguistik yang berupa bahasa, sistem tanda, simbol, maupun
kode didalam bahasa itu sendiri.
a. Warna Baju Kurung
Warna perak merupakan sebuah domain budaya pada tahun 2000, dimana kita
dapat dengan mudah menemukan banyak contoh kongkret tentang bagaimana
kekuasaan budaya tahun 2000 di jalankan. Dimensi dan potensi dari warna silver
pada tahun 2000, tahun ini jauh dari sekedar suatu ruang budaya yang luas, khas, dan
modern.
Gaya khas busana adat, bahasa dan hubungan budaya merupakan bagian dari
ciri-ciri budaya yang berkaitan dengan era Milenium. Periode tersebut sebagai asal
mula berkembangnya warna perak dan pada saat itu gaya tersebut sebuah budaya pop.
 77
Fenomena sosial-budaya mengenai bentuk warna seperti yang terjadi di tahun
2000 menunjukan bahwa di satu pihak, bentuk warna atau lambang tersebut
merupakan cermin kebudayaan.
b. Motif Pada Bagian Bawah Busana Baju Kurung Adat Minang
Gambar 4.9 Motif Pada Bagian Bawah Baju Kurung Adat Minang
Carano kanso namonyo ukia
Siriah gadang lingka-balingka
Balingka jo arai pinang
Batukuik dulamak kaco
Santo timbakau pakaian adat
Latak di dalam carano kanso
Suatu talatak di tampeknyo
Ukia dikarang tampuak tangkai
Pakaian balai nan saruang
Pariangan jo Padang Panjang
Ukia tuo ukia usali
Warih dek anak Indo Jati
Warih nan indak putuih
Tutua nan samo kito danga 37
(Carano kanso namanya ukiran, Sirih besar lingkar melingkar, Melingkar juga
pohon arai pinang, Di pukul pangeran kaca, Santo tembakau pakaian adat,
Letakan di dalam Carana kanso, Suatu terletak di tempatnya, Ukiran di karangan
tempat tangkai, Pakaian sehelai kain sarung, Paraingan ke Padang Panjang Ukiran
tua ukiran Asli, Warisan tempat anak Induk jati, Warisan yang tidak pernah putus,
Tutunan yang sama yang di dengarkan)
Jika kita perhatikan, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang dilantunkan
lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga dalam normanorma
adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.”… Pakaian balai nan
 78
saruang Pariangan jo Padang Panjang Ukia tuo ukia usali Warih dek anak Indo Jati
Warih nan indak putuih Tutua nan samo kito dang“ (pakaian sehelai yang sarung
Pariangan juga Padang Panjang ukiran tua ukiran usali wariasan dekat induk jati
warisan yang tidak putus tumpuan yang bersama kita dengar), perenungan pepatahpetitih
ini sekurangnya telah mengangkat dalam mempertahankan adat simbolisme
motif serta fungsinya di dalam masyarakat.
Tanda verbal berupa pepatah bergaya pantun mengandung makna konotasi.
Struktur sintaksis berupa sintaksis kalimat bernada ajakan atau himbauan. Artinya,
dengan mengacu pada bersatunya dalam lingkaran kebersamaan menjadi keluarga
dan mampu mengikat atau sebagai tumpuan kebesamaan yang ada di lingkungan kita,
maka diharapkan kita sebagai sebuah bangsa selalu berupaya bersatupadu agar
budaya ini senantiasa kuat.
37
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural.”
.. Motif Pada Bagian Tepi Busana Adat Baju Kurung
Gambar 4.10 Motif Busana Adat Baju Kurung Siriah Gadang
Siriah gadang siriah balingka
Kuniang sacoreng diatehnyo
Baaleh batadah tampan
Hulu adat kapalo baso
Pangka kato hulu bicaro
Panyingkok peti bunian
Nan tampak sirah balingka
Isinyo adat jo pusako
Baukia diateh sarawah
Baukia ditimbago
Bacacak ateh batu
Manjadi pado zaman
 79
Pambukak biliak nan dalam
Susunan dari Priangan
Buatan Parpatiah Nan Sabatang
Tidan nan turun dari ateh
Balingka jo mufakat
Balingka jo limbago
Jadi pusako alam nangko
Anak kunci dalam hetongan
Tando adat badiri nyato
Tando biti adat bapakai
Tinggi nan amban jantan
Dalam juo takasiak bulan
Pandai ukia di timbago
Pandai pahek pado kayu
Disitu hati mako sanang
Dilahia manahan bandiang
Di bathin manahan tiliak
Nan nyato nampak di mato
Nan bathin dibawo raso
Distulah latak makna siriah
Siriah sahalai nan bagagang
Gagang barangkai jo bungonyo
Bungo nan elok katiruan
Disinan tiruan adat
Di situ limbago tumbuah
(Sirir besar sirih melingkar, kuning tercoreng di atasnya, Beralaskan bertanda
tampan, Kepala adat kepala bersama, Tempat kata kepala bicara, penyingkat peti
bunian, Pembuka kamar yang dalam, Susunan dari Lapisan masyarakat, Buatan
pepatah yang sebatang, Tidak datang turun dari atas, Melingkar ke Mufakat,
Melingkar ke bersamaan, Jadi pusaka alam nyata, Anak kunci dalam hitungan,
Tanda adat berdiri nyata, Yang tempat sirih melingkar, Isinya adat yang pusaka,
Berukiran di pakaian, Berukikan bertembaga, Mencacak batu, Menjadi pada
jaman, Tanda sedikit adat di pakai, Tinggi yang emban jantan, Disitu hati maka
senang, Dilahirkan menahan banding, Di batin menahan sesak, Yang nyata
tampak di mata, Yang batin di bawa rasa, Disitulah makna sirih, Sirih sehelai
yang bergagang, Gagang berangkai juga bunganya, Bunga yang baik di tirunya,
Disitulah tiruan adat, Di situ kesadaran tumbuh). 38
Makna pepatah Jika kita perhatikan, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang
dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.” …Siriah
gadang siriah balingka Kuniang sacoreng diatehnyo Baaleh batadah tampan Pandai
ukia di timbago Pandai ukia pado pakaian Disitu hati mako sanang Dilahia
manahan bandiang Di bathin manahan tiliak Nan nyato nampak di mato“ (Sirih
besar sirih melingkar kuning tergambar diatasnya beralaskan menampung cantik

Falsafah Adat Minangkabau Kepentingan Religius Dengan Budaya
 80
padai ukiran di adata pandai ukiran pada pakaian disitu hati maka senang di
lahirkan menahan beban di bathin menahan gagangguan yang nyata tampak di depan
mata), perenungan pepatah-petitih ini sekurangnya telah menjaga dalam
mempertahankan adat simbolisme motif serta fungsinya di dalam masyarakat.
Prinsip-prinsip pepatah diatas tersebut merupakan prinsip operasional yang
melembaga di dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. Jiwa baju kurung
menjadi pendorong bagi tindakan sebagai pemegang pusaka adat yang mempunyai
tanggungjawab sebagai khalifah. Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan
berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat; pengayom bagi yang kecil
dan menjadi suluh bagi orang banyak. Jiwa kemanusiaan merupakan sebuah aksi
kemanusiaan dalam melakukan transformasi sosial. Dalam kerangka inilah
masyarakat Minangkabau ditempatkan dan berproses dengan amal saleh untuk
kemashalahatan umat.
d. Motif Pada Bagian Tengah Busana Adat Baju Kurung
Gambar 4.11 Motif Pada Bagian Tengah Busana Adat Baju Kurung
Panco ringek di tapi jalan
Mati-mati mako babuah
Ingek-ingek anak bajalan
Lauik sati rantau batuah
 81
Bungo matohari kapunco ukia
Rantak malam lingka ba lingka
Gayo mantohari nan jadi rasiah
Corak bulan mancari aka 39
(Pancaran teringat di tepi jalan, Mati-mati mekar berbuah, Ingat-ingat anak
berjalan, Laut sakti rantau bertuah, Bunga matahari kepuncak ukiran, Retak malam
lingkar melingkar, Gaya Matahari yang jadi rasia, Corak bulan yang jadi akar).
Peran motif busana adat dalam dunia industry pada tahun 2000 telah
mengalami peningkatan, meskipun dalam teknik dan bobot bervariasi, mulai dari
upaya memperbaiki bentuk dan pengayaan bahasa rupa sampai mempercantik sebuah
produk busana adat.
Makna motif hias bunga matahari yang terlingkar oleh daun yang dibuatnya
sebuah hiasan tidak saja sekedar memperindah penampilan benda yang dihias.
Namun, hiasanpun mampu dijadikan sebagai media komunikasi; yang menyampaikan
pesan-pesan tertentu kepada pengamat dari dalam masyarakat di sekitarnya. Melalui
motif hias baju kurung yang ada pada busana adat dapat diketahui status keluarga
pemilik dan pemakai kedua jenis barang tersebut; gaya matahari dalam jadikan hiasan
yang melambangkan pengetahuan untuk mencari akal dan pengetahuan.
Tanda bunga matahari akan selalu mengacu pada sesuatu hal yang lain yang
disebut referent. Matahari mempunyai sifat yang mencerahkan, hingga wajah cerah
mengacu pada kebahagiaan. Daun melingkar mengacu pada kesatuan. Apabila
hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang yang melihat
atau mendengar akan timbul pengertian.
39
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
 82
e. Motif Pada Bagian Lengan Busana Adat Bundokanduang
Gambar 4.12 Motif Pada Bagian Lengan Busana Adat Baju Kurung
Rumah gadang sandaran adat
Adat di alam Minangkabau
Indah nian tampak dimato
Raso dibawo turun
Dilahia bada nan disabuik
Di bathin adat jo limbago
Kieh ibarat caro Minang
Adat nan samo kito pakai
Tempe manempe ukia gadang
Salo manyalo dan nan banyak
Baitu latak ragam ukia
Alua patuik, barih balabehnyo 40
(Rumah gadang sandaran adat, Adat dialam minangkabau, indah sekali tampak
dimata, rasa di bawa turun, di lahir tubuh yang diucapkan, di batin adat juga dan
kemuliaan, kiasan ibarat cara minang, adat yang sama kitapakai, erat saling
mengeratkan ukiran besar, saling bersambut dan yang banyak, seperti itulah
letak ragam ukir, alur kata, barisan yang terbalaska)
4.3.3 Bahasa rupa pada Selendang
Gambar 4.13 Selendang Bundokanduang
40
Ibid
 83
Bahasa rupa pada selendang Bundokanduang yang biasa dengan warna hitam,
merah, biru, atau lembayung yang dihiasi dengan benang emas dan tepinya diberi
minsai bermakna simbolik, terutama minsai-nya, bahwa seorang bundo kanduang dan
kaumnya harus mematuhi batas-batas adat dan tidak boleh melanggarnya. Sementara,
balapak yang diselempangkan dari bahu kanan ke rusuk kiri bermakna simbolik
bahwa seorang bundo kanduang bertanggung jawab melanjutkan keturunan.
a. Motif Selendang pada bagian ujung Busana Adat
Gambar 4.14 Motif Selendang Pada Bagian Ujung Busana Adat
Paruah anggang kaluak bakaluak
Mangkuto di ateh ranggah
Suntiangan buruang di rimbo
Runciang saragam pisau lariak
Pambuek ukia panca ragam
Pakakeh tukang ukia maukia
Tumbuak manumbuak rasuk jo paran
Disinan baukia pamalanggang
Di ujuang papan tumbukkan kayu
Pereng mamereng kayu gadang
Ujuang maujuang kayu taba
Sanan talatak paruah anggang
Baitu suriah barih adat 41
(Paruh anggang kedaerah berdaerah, Mangkuto di atas rongga, Mahkota
burung di rimba, Runcing seragam pisau motif, Pembuat ukiran menyinari
ragam hias, Perkakas tukang ukir menggukir, Tumbuk-menumbuk rusuk ke
tempat, Disitu berukir pamalanggang, Di ujung mengujung adat tebal disitu
terletak paruh anggang begitulah suriah barisan adat)
41
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
 84
Makna pepatah Jika kita perhatikan, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang
dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.”Paruah
anggang kaluak bakaluak Mangkuto di ateh ranggah Suntiangan buruang di rimbo
Runciang saragam pisau lariak Pambuek ukia panca ragam hias tukang ukia maukia
Tumbuak manumbuak rasuk jo paran Disinan baukia pamalanggang Di ujuang
selendang tumbukkan kayu Pereng mamereng kayu gadang Ujuang maujuang adat
taba Sanan talatak paruah anggang Baitu suriah barih adat“ (paruh anggang
kedaerah berdaerah Mangkuto di atas rongga mahkota burung di rimba runcing
seragam pisau motif pembuat ukiran menyinari ragam hias tukang ukir menggukir
tumbuk-menumbuk rusuk ke tempat, Disitu berukir pamalanggang di ujung
mengujung adat tebal disitu terletak paruh anggang
begitulah suriah barisan adat), perenungan pepatah-petitih ini sekurangnya
telah menjaga dalam mempertahankan adat simbolisme motif serta fungsinya di
dalam masyarakat.
Tanda pepatah yang sering di pakai dalam tradisi orang Minangkabau yang
mengajarkan bentuk alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang
membimbing mereka memahami dirinya dan mencari sumber kekuatan dalam hidup.
Ini merupakan sumbangan adat Minangkabau dalam falsafah “Alam Takambang Jadi
Guru” cermin hubungan manusia dengan alam.
 85
b. Motif Selendang Pada Bagian Tengah
Gambar 4.15 Motif Selendang Pada Bagian Tengah
Puluik-puluik tumbuah di parak
Babuah lai, mamakan tidak
Pauitan kambiang, tambang taranak
Tangah padang puputan angin
Kok gadang kagalang tabuah
Tabuah pusako di Pariangan
Kok pupuih di surek, di batu tingga juo
Kok habih tumbuah puluik-puluik
Dalam ukia tingga juo
Ukia banamo puluik-puluik
Latak di ujuang bakeh sudah
Ujuang rasuak ujuang paran
Baitu latak tatahnyo
Asa di Batipuah Pariangan
Di Sumpu Batu Taba
Baitu warih cupak adat 42
(Puncuk-puncuk tumbuh di taman, Berbuah juga, memakan tidak kaitan
kambing, Gembala kambing tembang ternak, Tengah padang ditiup angin, Jika
besar ke gelang tumbuh, Bertumbuh pusaka puncuk di pariangan, Jika putus
disurat, Di batu tinggal juga ko habis tumbuh puncuk-puncuk dalam ukiran
tumbuh juga Ukiran bernama puncuk-puncuk letak di ujung bekas sudah ujung
rusuk ujung paran begitu letak tatahnya pikiran di tempat pariangan di Tutup
batu tebal begitu juga tempat adat),
42
Ibid.”
 86
Makna pepatah Jika kita perhatikan, tampaknya kata-kata pepatah-petitih
yang dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.”... Puluikpuluik
tumbuah di parak Babuah lai, mamakan tidak Pauitan kambiang, tambang
taranak Tangah padang puputan angin Kok gadang kagalang tabuah Tabuah
pusako di Pariangan Kok pupuih di surek, di batu tingga juo Kok habih tumbuah
puluik-puluik Dalam ukia tingga juo Ukia banamo puluik-puluik Latak di ujuang
bakeh sudah Ujuang rasuak ujuang paran Baitu latak tatahnyo Asa di Batipuah
Pariangan Di Sumpu Batu Taba Baitu warih cupak adat “ (puncuk-puncuk tumbuh di
taman berbuah juga, memakan tidak kaitan kambing, tembang ternak tengah padang
ditiup angin jika besar ke gelang tumbuh bertumbuh pusaka puncuk di pariangan ko
putus disurat, di batu tinggal juga ko habis tumbuh puncuk-puncuk dalam ukiran
tumbuh juga Ukiran bernama puncuk-puncuk letak di ujung bekas sudah ujung rusuk
ujung paran begitu letak tatahnya pikiran di tempat pariangan di Tutup batu tebal
begitu juga tempat adat), perenungan pepatah-petitih ini sekurangnya telah menjaga
dalam mempertahankan adat simbolisme motif serta fungsinya di dalam masyarakat.
4.3.4 Bahasa Rupa Pada Kain Sarung (Kodek)
Gambar 4.16 Kain Sarung (Kodek)
 87
Keindahan kain sarung di tahun 2000 mengartikan manusia memiliki
sensibilitas estetika, karena budaya manusia tak dapat dilepaskan dari keindahan
dalam menampilkan bentuk yang baru.
Kain sarung yang dipakai oleh Bundo Kanduang dibuat dari kain balapak atau
songket tenunan Pandai Sikek, Padang Panjang. Kain sarung ini berhiaskan benang
emas atau perak dengan motif bunga, daun atau garis-garis geometris. Sedangkan
tepinya dihiasi motif pucuk rebung (puncuk tunas bambu). Kain sarung pada gambar
(a) dipakai sebatas mata kaki melambangkan bahwa Bundo Kanduang harus
mempunyai rasa malu, kesopanan, ketaatan beragama tetapi mudah melangkah dan
kain sarung pada gambar (b) lebih ketat mengikuti kain dari jawa (kebaya) yang agak
sulit untuk berjalan. Hiasan tabur pada kain sarung melambangkan pengetahuan
Bundo Kanduang sebanyak bintang di langit, motif pucuk rebung melambangkan
inisiatif dan gerak dinamis masyarakat Minangkabau.
Motif kain sarung busana adat Minang ditentukan secara kultural. Jadi
penempatan moyif busana adat antara lain :
a) Warna Kain Sarung
Warna perak merupakan sebuah domain budaya pada tahun 2000, dimana kita
dapat dengan mudah menemukan banyak contoh kongkret tentang bagaimana
kekuasaan budaya tahun 2000 di jalankan. Dimensi dan potensi dari warna silver
tahun 2000, pada tahun ini jauh dari sekedar suatu ruang budaya yang luas, khas, dan
modern.
 88
Gaya khas busana adat, bahasa dan hubungan budaya merupakan bagian dari
ciri-ciri budaya yang berkaitan dengan era Milenium. Periode tersebut sebagai asal
mula berkembangnya warna perak dan pada saat itu gaya tersebut sebuah budaya pop.
Fenomena sosial-budaya mengenai bentuk warna seperti yang terjadi di tahun
2000 menunjkan bahwa di satu pihak, bentuk warna atau lambang tersebut
merupakan cermin kebudayaan.
b) Motif Kain Sarung pada bagian bawah Taji Siarek
Gambar 4.17 Kain Sarung Motif Taji Siarek
Saruang gadang baujuan ukia
Ukia bataji jo siarek
Talatak di bawah pereng
Buliah di lumbuang nan bapereng
Baik di rumah nan baanjuang 43
(Sarung besar berujung ukir, Ukiran bertujuan ke sarat, Teletak dibawah pereng,
boleh di lumbung yang bertingkah laku baik, Baik di rumah yang beranjungan).
Makna pepatah Jika kita perhatikan, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang
dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.”
…Saruang gadang baujuan ukia Ukia bataji jo siarek Talatak di bawah pereng
Buliah di lumbuang nan bapereng Baik di rumah nan baanjuang“ (sarung Kebesaran
43
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
 89
ke ujung ukir beri tanda juga sarat teletak dibawah atap boleh di lumbung yang
bertingkah laku baik di rumah yang berujung), perenungan pepatah-petitih ini
sekurangnya telah menjaga dalam mempertahankan adat simbolisme motif serta
fungsinya di dalam masyarakat.
Tanda dalam kerangka pepatah inilah manusia Minangkabau ditempatkan,
bergerak dan berproses dalam kaedah nilai alam dan kemanusiaan yang berorientasi
pada tanggungjawab dan kemashalahatan umat yang akhinya tercapai keindahan
dalam hidup ini.
c) Motif Pada Tepi Kain Sarung Bada Mudiak
Gambar 4.18 Kain Sarung Motif Bada Mudiak
Elok susun bada mudiak
Manyonsong aia samo sakato
Arak baririang samo saraso
Indak saiku nan mayalo 44
(baik susun pada mudik, Menyongsong air sama sekata, Mengarak beriring sama
serasa, Tidak saling menyalakan),
Makna pepatah pepatah diatas, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang
dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.” Elok
susun bada mudiak Manyonsong aia samo sakato Arak baririang samo saraso“ (baik
44
Ibid
 90
susun pada mudik mentongsong air sama sekata mengarak beriring sama serasa),
perenungan pepatah-petitih ini sekurangnya telah menjaga dalam mempertahankan
adat simbolisme motif serta fungsinya di dalam masyarakat.
d) Motif Pada Bagian Tengah Kain Sarung
Gambar 4.19 Motif Pada Bagian Tengah Kain Sarung
Tatandu samo manyasok
Bungo satangkai kambang nyarak
Dibuek ukia langkok-langkok
Susun barangkai tatandu bararak 45
(Ketanduk sama menyaasak bunga setangkai kambang syarat, Dibuat ukir
langkah-langkah, Susun bertangkai ketanduk berbaris).
Makna pepatah pepatah diatas, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang
dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.”… Tatandu
samo manyasok Bungo satangkai kambang nyarak Dibuek ukia langkok-langkok
Susun barangkai tatandu bararak“ (ketanduk sama memasok bunga setangkai
kambang syarat dibuat ukir langkah-langkah susun bertangkai ketanduk berbaris),
perenungan pepatah-petitih ini sekurangnya telah menjaga dalam mempertahankan
adat simbolisme motif serta fungsinya di dalam masyarakat.
45
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
 91
4.3.5 Bahasa rupa pada Kalung perhiasan
1. Perhiasan Kalung Bundo Kanduang
Gambar 4.20 Perhiasan Kalung Bundo Kanduang
Kendati perkembangan perhiasan kalung dan estetika memperlihatkan
berbagai pergolakan dan pertentangan tentang bentu perhiasan kalung tersebut.
Bagaimanapun bentuk perhiasan kalung mengalami perubahan, hingga terjadi pada
perkembangannya pada bahasa rupa pada tahun 2000, penjelajahan bentuk baru dan
persoalan rupa perhiasan kalung masih menjadi penanda utama dalam memegang
adat.
Perhiasan pada gambar diatas sering disebut dengan tanda tungku tiga
sajarangan, yakni unsur-unsur adat terdiri dari para penghulu (datuk), unsur agama
dari ulama dan kaum cendekiawan dari kalangan inteletual atau orang yang dapat
diakui pemikiran dan gagasannya.
Kalung perhiasan yang dikenakan di leher sebagai lambang kebenaran yang
akan tetap berdiri teguh dan sebagai pernyataan tetap menegakkan kebenaran
dilambangkan dengan memberi hiasan kalung. Kalung juga melambangkan bahwa
 92
semua rahasia dikumpulkan oleh Bundo Kanduang dan sebagai pengatur ekonomi
maka perlu menyimpan harta dalam bentuk emas yang sukar dihabiskan.
a) Bentuk Perhiasan Kalung
Gambar 4.21 Bentuk Perhiasan Kalung
Bentuk perhiasan kalung Dukuah uang dukat adalah kalung yang terbuat dari
silver. Kalung ini mengandung makna simbolik bahwa bundo kandung adalah cermin
seorang perempuan Minangkabau yang dapat menjadi pengayom bagi kaumnya
dalam menjalani kehidupan.
b) Motif Bahasa Rupa Pada Tepi Perhiasan Kalung
Gambar 4.22 Motif Hias Bunga Teratai pada Perhiasan Kalung
Taratai, bungo taratai
Talipuak di dalam tabek
Usah picayo daun takampai
Di dalam lunau urek takabek
Ukia di aliah ateh sarawah
Ujuang ukia talipuak layua
 93
Badannyo buliah jo nan lain
Lataknyo di ateh alua patuit
Condoang mato kan nan rancak
Condoang salero ka nan lamak
Nan tampak sarawah baukia
Bathinnyo adat jo pusako
Babedo lahie jo bathin
Talampau bathin kalihatan
Baitu suriah barih adat 46
(Teratai, bunga teratai, Terletak didalam kolam, Usah percaya daun takampai,
Didalam tanah ikat mengikat, Ukiran beralas atas pakaian, Ujung ukiran tampak
layu, Badannya boleh yang lain, Letaknya di atas alurnya di patutkan, Tatapan
mata akan yang cantik, Tatapan selera bukan yang enak, Yang tampak pakaian
berukir, Batinnya adat ke pusaka, Berbeda lahir juga batin, Terlempar batin
kelihatan, Begitu suriah batin adat).
Kata teratai bagi umumnya bangsa Indonesia hanya akan mengungkapkan
makna konotatif yang berhubungan dengan keindahan belaka. Akan tetapi, dalam
kebudayaan India bunga itu akan memiliki makna konotatif lain,karena baik dalam
agama Hindu maupun agama Buddha, bunga teratai memiliki arti perlambangan
(simbolis) yang dalam, yang berhubungan dengan kedua agama tersebut.
Tumbuhnya keyakinan bahwa dengan menerima modernitas sebagai
pandangan hidup dipicu pula oleh tumbuhnya harga diri sebagai sebuah perhiasan
adat antara lain :
· Dukuah palam adalah kalung yang terbuat dari palam (manik-manik)
yang berasal dari dasar laut. Makna simbolik yang terkandung dalam
kalung ini adalah bahwa hidup itu perjuangan. Artinya, tidak hanya
pasrah tetapi berpikir dan berbuat sesuatu tentang segala ciptaan
Tuhan untuk kesejahteraan manusia.
46
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.
 94
2. Perhiasan Kalung Minang
Gambar 4.23 Perhiasan Kalung Rumah Gadang
a. Motif Bahasa Rupa Pada Bagian Tengah Perhiasan Kalung
Gambar 4.24 Motif Perhiasan Kalung Pada Bagian Tengah
Dilahia manahan bandiang
Di bathin manahan tiliak
Nan nyato nampak di mato
Nan bathin dibawo raso
Disitulah latak makna siriah
Siriah sahalai nan bagagang
Gagang barangkai jo bungonyo
Bungo nan elok katiruan
Disinan tiruan adat
Di situ limbago tumbuah
Laweh dikambang ka alam nangko
Kucuik saleba daun siriah
Kok rimbun tampak di junjuangan Urek malakek di rumpunyo
Aka mancakam masuak tanah
 95
( Dilahirkan menahan banding, di bathin menahan teliti, yang nyata tampak
dimata, yang batin di bawa rasa, disitulah letak makna sirih, sirih sehelai yang
bergagang, gagang bertangkai juga bunganya, bunga yang baik ditirukan,
disitulah kemuliaan tumbuh, luas di kembangkan ke alam nangko, kain selembar
daun sirih, jika rimbun tampak di pikul urat melingkar dirumputnya, akar
mencekram masuk tanah ) 47
b. Motif Bahasa Rupa Pada Bagian Tepi
Gambar 4.25 Motif Bahasa Rupa Pada Bagian Tepi Kalung
Lakek di dukuah nan balariak
Ukiran di rumah gadang
Lukisan adat jo limbago
Jadi pakaian di istano
Manjadi suri tuladan kain
Umpamo ragi nan tadendeng
Dalam bathin budi marangkak
Lahianyo ukia nan balariak
Bathinnyo limbago cupak adat
Adat limbago tempat diam
di alam Minangkabau
Alam takambang jadi guru 48
(lekat di kalung yang tenang, ukiran rumah gadang, lukisan adat yang mulia, jadi
pakaian di istana, menjadi suri teladan kain, umpama ragi yang terbawa, dalam
batin budi merangka, lahirnya ukir yang mulia, batinya mulia tempat adat, adat
yang mulia tempat berdiam, di alam minangkabau, alam terkembang menjadi
guru)
47
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
48
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
 96
Perhiasan dalam bentuk Rumah gadang (Dukuah nasura), yaitu kalung yang
ukuran lingkarnya seleher. Oleh karena lingkarannya seleher, maka kalung ini sering
disebut cakiak lihia (cakiak berarti “cekik”, sedangkan lihia berarti “leher”). Sesuai
dengan namanya, maka ketika kalung itu dikenakan akan terlihat seakan-akan
mencekik leher si pemakainya (bundo kanduang). Makna simbolik yang terkandung
dalam perhiasan ini adalah bahwa orang hidup mesti disiplin (dapat menerapkan
sikap mental hemat).
Tanda dalam bentuk perhiasan kalung Minang yang mengandung nilai,
norma, dan hukum. Didalam tanda perhiasan gambar rumah adat minang kabau
artinya sebagai pegangan adat yang tidak luntur oleh panas atau adat yang
dipertahankan.
Seluruh dukuah-dukuah tersebut merupakan simbol kekayaan seorang
bundo kanduang yang dalam pepatah adat dikatakan “Nak tuah batabua
urai”. Secara tersirat seorang bundo kanduang selain memiliki banyak harta, juga arif
dan bijaksana. Kearifan dan kebijaksanaan yang pada gilirannya dapat digunakan
untuk memecahkan berbagai permasalahan kaum dan nagarinya.
4.3.6 Bahasa rupa pada Perhiasan Galang (gelang)
Gambar 4.26 Perhiasan Galang Gadang
 97
Simbolisme galang gadang atau lambang-lambang adalah sangat penting
dalam masyarakat dan kehidupan. Galang gadang atau disebut juga dengan galang
adat besar mengandung makna simbolik sebagai pamagar (pagar). Artinya, semua
tindakan atau tugas yang dilaksanakan oleh bundo kanduang harus sesuai dengan
aturan adat dan disetujui oleh mamak atau panghulu. Jadi, galang gadang berfungsi
sebagai pengingat bundo kanduang agar selalu mematuhi aturan-aturan adat yang
telah ditetapkan.
Perhiasan galang gadang tersebut hanya dipakai pada saat dilaksanakan
upacara adat dimana bundo kanduang hadir dengan segala kebesarannya sebagai
seorang pemimpin adat. Berikut ini adalah beberapa macam perhiasan (kalung,
gelang dan cincin) yang biasa digunakan oleh bundo kanduang di dalam
melaksanakan upacara adat.
Selain kalung, hiasan lainnya adalah gelang, yaitu gelang gadang (besar),
gelang rago-rago dan gelang kunci manik. Pemakaian gelang melambangkan semua
yang dikerjakan Bundo Kanduang harus dalam batas-batas tertentu, menjangkau ada
batasnya, melangkahkan kaki juga ada batasnya.
a) Motif Pada Tepi Galang Gadang
Gambar 4.27 Motif Pada Tepi Galang Gadang
Rancak raginyo buah palo
Dikarek disusun nyato
Elok tampaknyo pandangan mato
Ukia tuturan tumpuan kasau
 98
Balampih jo itiak pulang patang
Basalo jo tatandu manyasok bungo
Raginyo dama tirih bintang gumarau
Baitu tatah lataknyo ukia
Dalam barih cupak adat 49
(Bagus sekali buah pala, Diikat disusun nyata, Indah tampaknya pandangan
mata, Ukiran tuturan tumpuan kasau, Berlapiskan itik ke petang, Berbaris
bertandu menyasak bunga, Tubuhnya obor sinar bintang kemilau, Begitu tata
letaknya ukir, Dalam baris pegangan adat).
Motif gelang dikaitkan dengan simbol-simbol galang gadang tersebut dalam
menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar dan tidak mudah
hilang dalam diri seseorang. Motif galang gadang tentu mempunyai tujuan-tujuan
tertentu dan orang yang memakainya tersebut membawa nilai tentang apa yang
penting, apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah bagi dirinya.
b) Motif Pada Tengah Galang Gadang
Gambar 4.28 Motif Pada Tengah Galang Gadang
Di latak diateh galang data
Tampek nan tarang kalihatan
Nak jaleh dek nan banyak
Pamimpin indak buliah basalisiah paham
Hambo rakyat bapantiangan
Baitu barih nan tabantang
Asa ukia di Luhak Agam
Kambang di alam Minangkabau 50
49
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ” Minangkabau dan Potensi Etnik dalam
Paradigma Multikultural, Ibid.”
50
Ibid
 99
(Diletakan diatas gelang datar, tempat yang terang kelihatan, Yang jelas tampak
yang banyak, Pemimpin tidak boleh berselisih paham, Hamba rakyat yang
dipentingkan, Begitu barisan yang terbentang, beri ukiran di daerah Agam,
Kembang di alam Minangkabau).
Makna pepatah pepatah diatas, tampaknya kata-kata pepatah-petitih yang
dilantunkan lewat upacara adat tersebut tidak lagi sekedar menyatakan menjaga
dalam norma-norma adat, tetapi juga mempertahankan kebesaran budaya.” Dilatak
diateh papan data Tampek nan tarang kalihatan Nak jaleh dek nan banyak Pamimpin
indak buliah basalisiah paham Hambo rakyat bapantiangan Baitu barih nan
tabantang Asa ukia di Luhak Agam Kambang di alam Minangkabau“ (Diletakan
diatas gelang datar tempat yang terang kelihatan yang jelas dan yang banyak
pemimpin tidak boleh berselisih paham hamba rakyat berpentingan begitu baris yang
terbentang asal ukir di daerah agam kembang di alam Minangkabau), perenungan
pepatah-petitih ini sekurangnya telah menjaga dalam mempertahankan adat
simbolisme motif serta fungsinya di dalam masyarakat.
4.3.7 Bahasa rupa pada cincin
Gambar 4.29 Bahasa Rupa Pada Cincin
 100
Selain kalung dan gelang, cincin juga termasuk perhiasan dalam
kelengkapan bundo kanduang. Namun, cincin yang digunakan tidak ditentukan
bentuk dan modelnya (berdasarkan selera) karena cincin yang dikenakan dalam
masyarakat adat dapat melambangkan sebuah ikatan batin.
 101
4.4 Analisa Klasifikasi Tanda Pakaian Busana adat Bundokanduang
Gambar 4.30 Pakaian Busana Adat Bundokanduang.
No. Klasifikasi Tanda
1. Nilai-nilai bahasa rupa modern telah
menjadi bagian yang tak terpisahkan
dari program pembangunan dan
industrialisasi di setiap daerah.
Tanda budaya modernisasi yang
telah tumbuh di Indonesia pascamodern
mengalami pematangan
dan terapan luas dalam pelbagai
wujud busana adat Sumatera
Barat
2. Tuntunan gaya hidup masyarakat
yang meniru masyarakat budaya
global pun berkembang pesat. Hal
itu tercermin pada pengamatan
busana adat Minang pada tahun
2000, menunjukan kecenderungan
kuat bahwa sebagai masyarakat
Sumatera Barat telah memiliki citra
rasa yang tinggi dalam membangun.
Tanda masyarakat modern yang
mengadopsi nilai-nilai budaya
global telah membangun
keragaman budaya yang semakin
cepat, baik dalam bentuk
keanekaan gaya ataupun
tumbuhnya gaya hidup di
masyarakat yang semakin
beragam.
3. Perkembangan tradisi lintas budaya
semakin meninggi,
Kebutuhan masyarakat akan
Informasi yang sejalan dengan
gaya hidup dan peningkatan citra
rasa.
Table 4.1 Pakaian Busana Adat Bundokanduang.
 102
a. Bahasa Rupa pada Suntiang Bundokanduang 2000
Gambar 4.31 Bahasa Rupa pada Suntiang Bundokanduang 2000
No Gambar Jenis Tanda Makna Analisa
1
Penanda/ Makna
Ideologis, tanda
terdapat upaya
untuk
mengedepankan
aspek-aspek
kebudayaan
Minangkabau.
Eksistensi
citra yang
dibangun
melalui
symbolsimbol
artifak
budaya
Minangkabau.
keanekaragama
n makna sebuah
penanda pada
budaya.
2
Penanda/Fungsi,
Petanda dalam
wacana seni dari
berbagai zaman
Tampilan
citra
bermakna
membangun
tanda-tanda
peradaban.
mempertanyaka
n oposisi antara
subjek dan
objek, yang
menjadi dasar
diskripsi yang
objektif
3
Penanda/Fungsi,
Penanda
merepsentasikan
sesuatu dalam
realitas social
Bentuk
membangun
aspek
orisinalitas
Suatu makna
diproduksi
melalui bahasa.
Table 4.2 Suntiang Bundokanduang 2000
 103
b. Bahasa Rupa pada Baju Kurung Tahun 2000
Gambar 4.32 Bahasa Rupa pada Baju Kurung Tahun 2000
No
Gambar Nama
Adat
Jenis Tanda Makna Analisa
 
CARANO
KANSO
Penanda/Fungsi,
penanda utama
yang dihasilkan
sebagai puncak
proses
Transpormasi
budaya.
Bentuk
berhubungan
dengan
gambaran
(imaji)
berkaitan
dengan dunia
spiritual budaya
Pemahaman,
komunikasi
melibatkan
tanda dan
makna.
 
SIRIAH
GADANG
Penanda/Makna
ideologis, sebagai
identitas
bertanggung
jawab.
Motif
mencitrakan
mental dan jiwa
para pemilik
dalam busana
adat.
interaksi
sosial
melalui
pesan
budaya.
3
BUNGO
PANCA
MATOHA
RI
JO
RANTAK
MALAM
Penanda/Tanda,
Tanda dalam motif
menggali makna
ideologis yang
telah ada di alam
Motif
mengundang
imaji dalm
membangun
citra
masyarakat.
Tanda
budaya
mentransmisi
kan pesan
4
PESONG
AIA
BABUIAH
Penanda/Makna
ideologis, sebagai
tumbuhnya
kegiatan di
kalangan
masyarakat
Motif
mencitrakan
menumbuhkan
dalam
membangun
komunikasi
dalam keluarga.
Tanda
budaya
seringkali
menjadi
rujukan
utama
Table 4.3 Baju Kurung Tahun 2000
 104
c. Bahasa rupa pada Selendang
Gambar 4.33 Bahasa rupa pada Selendang
No Gambar Nama Adat Jenis Tanda Makna Analisa

DAUN
PULUIKPULUIK
Penanda/Makn
a Ideologis,
memiliki
makna dalam
kenyataan
hidup
berbudaya.
Motif
menyangkut
derajat dan
martabat
manusia
sebagai
pemakai
busana adat.
Tanda
komunika
si sebagai
produksi
dan
pertukaran
makna
2 PARUAH
ANGGANG
Penanda/Fungs
i, kebudayaan
adati
Motif
menyangkut
ciri kedayaan
dalam
kebudayaan
masyarakat
Minangkabau.
Peran
penguasaa
n makna
kepada
penerima
pesan.
3
PERNIK Penanda/Fungs
i, terbangunya
system nilai
modern
Penyusunan
kaidah yang
ditetapkan
struktur adat.
Jangkauan
pemaknaa
n akan
sangat
tergantung
pada
pengalama
n budaya.
Table 4.4 Selendang Bundokanduang
 105
d. Bahasa Rupa Pada Kain Sarung (Kodek)
Gambar 4.34 Bahasa Rupa Pada Kain Sarung
No
.
Gambar Nama Adat Jenis Tanda Makna Analisa
 

TAJI
SIAREK
Penanda/
makna
ideologis,
Motif
menyangkut
ciri kebaikan
dan kebenaran
dalam menjaga
adat Minang
Pengalaman
budaya yang
relatif.
 
BADA
MUDIAK
ITIAK
PULANG
PATANG
Penanda/fung
si, Penanda
mewakili
elemen
bentuk atau isi
kebudayaan
Penyusunan
kaidah motif
dalam struktur
social
bermasyarakat.
Makna menjadi
sebuah
pengertian yang
cair, tergantung
pada frame
budaya
pembacanya.
 
TATAND
U
MANYAS
OK
BUNGO JO
BUAH
NIBUANG
Penanda/fung
si, motif
kebudayaan
yang
berlandaskan
“budaya rasa”
adat
Petanda ini
memiliki suatu
komunikasi
yang amat
dekat dengan
budaya,(alam)
sekitar.
Budaya
seringkali
dipertukarkan
tanpa
membedakan
artinya.


SALANGKO Penanda/Tand
a, dalam
keterbukaan
kebudayaan.
Citra bermakna
bagi
kelangsunganp
eradapan
kebudayaan.
Tanda budaya
menggali apa
yang
tersembunyi di
balik bahasa.
Table 4.5 Kain Sarung (Kodek)
 106
e. Bahasa rupa pada Kalung perhiasan
Gambar 4.35 Bahasa Rupa Pada Kalung Perhiasan
No
.
Gambar Nama Adat Jenis Tanda Makna Analisa
1
AKA
TANGAH
DUO
GAGANG
Pengaturan
makna atas
sebuah tanda
dimungkinkan
oleh adanya
konvensi sosial
di kalangan
pemuka adat
Minang.
Gagasangagasannya
memberi
gambaran yang
luas mengenai
bentuk budaya.
Makna
budaya
untuk
diterapka
n pada
fenomena
lain di
luar
bahasa.


BUNGO
TARATAI
DALAM
AIA
Penanda/Makna
ideologis,
makna bentuk
dihubungkan
dengan aspekaspek
lain di
luar bahasa.
Tanda
kebudaya
an
sebagai
bagian
dari
kehidupa
n sosial
 


BADA
MUDIA
K
ITIAK
PULAN
G
PATANG
Penanda/fungsi,
Penanda
mewakili elemen
bentuk atau isi
kebudayaan
hubungan
antara tanda
dan
keberadaan
struktur sosial.
Penanda
mewakili
elemen
bentuk
atau isi.
Table 4.6 Perhiasan Kalung Bundo Kanduang
 107
f. Perhiasan Kalung Minang
Gambar 4.36 Perhiasan Kalung Minang
No. Gambar Nama Jenis Tanda Makna Analisa
1. SIKUMBAN
G MANIH
Penanda/Ta
nda, dalam
memiliki
kesataraan.
Hubungan
antara tanda
menjadi
pondasi
menghadapi
kebudayaan
terbuka pada
milenium
berikutnya.
Petanda mewakili
elemen konsep
atau makna
2.
LUMUIK
HANYUIK
Penanda/fun
gsi,
Citra
bermakna
merupakan
bagian
historis
terbentunya
masyarakat.
Kesatuan antara
penanda dan
petanda itulah
yang disebut
sebagai tanda
Table 4.7 Perhiasan Kalung Minang Bundo Kanduang
 108
g. Bahasa Rupa Pada Perhiasan Galang (gelang)
Gambar 4.37 Bahasa Rupa Pada Perhiasan Gelang
No
.
Gambar Nama Adat Jenis Tanda Makna Analisa
 


BUAH PALO
PATAH
Penanda/makn
a ideologis.
Penyusunan
kaidah motif
membentuk
orientasi sosial
Tanda
adanya
konvensi
sosial
2
AKA
TANGAH
DUO
GAGANG
Penanda/fungsi
, ditunjuknya
adalah sebuah
himpunan
relasi-relasi
yang ada
Penyusunan
kaidah motif
menunjukkan
beberapa
eksistensi
‘Tanda’
dan
‘hubungan’
menjadi
kata-kata
kunci
dalam
analisis
semiotika.
Tabel 4.8 Perhiasan Galang Gadang
Tabel 4.9 Perkembangan Bahasa Rupa Antara pra-Modern, Modern, dan Posmodern
Bahasa Rupa
Pra-modern
Bahasa Rupa
Modern
Bahasa Rupa
Posmodern
Budaya Lokal Budaya Regional Budaya Global
Nilai Mistis Nilai Objektif Bebas Nilai
Mistis Sistematis Permainan
Keterampilan Tangan Industrial Digital
Ornamen Anti Ornamen Keseluruhan (pluralistik)
Etnik Nasionalis Keterbukaan
 109
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pola pikir kajian semiotika seperti ini terlihat jelas dalam proses
perkembangan bahasa rupa dan maknanya busana adat bundo kanduang di tahun
2000. Pengaturan pola motif busana disesuaikan dengan struktur dan ukuran
perkembangan jaman, sedangkan pengaturan pada songket adalah berdasarkan
struktur benang, bahan dan ukuran bidang dasar. Dengan terlebih dahulu mengetahui
ukuran ekonomis, estetis dan posisi susunan bahan; maka diaturlah pengulangan pola
motifnya. Pengulangan pola terjadi karena pola pikir matematis yang terjadi akibat
adanya ukuran bidang obyek. Struktur busana adat identik dengan struktur pakaian,
tampak pula pada struktur motif hias.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan pada Bab V
ini peneliti akan memaparkan tentang kesimpulan dan saran dari penelitian yang
dilakukan dalam Bab IV mengenai pakaian busana adat bundo kanduang dari
pengamatan busana adat di tahun 2000 dalam perkembangannya.
Kesimpulan
1. Pesan yang terdapat pada kajian semiotika ini busana adat adalah pesan yang
disampaikan kepada khalayak sasaran dalam bentuk tanda. Secara garis besar,
tanda dapat dilihat dari dua aspek, yaitu tanda verbal dan tanda visual. Tanda
verbal didekati dari ragam bahasa, gaya penulisan, tema dan pengertian yang
didapatkan. Tanda visual dilihat dari cara menggambarkannya, apakah secara
 110
strukturlisme, Makna, atau simbolis.
2. Penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang
keilmuan dalam hal ini perkembangan bahasa rupa ini dimungkinkan, karena
ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai
fenomena bahasa. Artinya, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana
social. Bertolak dari pandangan semiotika tersebut, jika sebuah praktik social
dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya termasuk karya
busana adat dan ragam hias dapat juga dilihat sebagai tanda-tanda.
3. Mengingat karya perkembangan busana adat mempunyai tanda berbentuk
verbal (bahasa) dan visual, serta merujuk bahwa Makna dan Bahasa rupa serta
penyajian visualnya juga mengandung struktur bahasa terutama berfungsi
dalam sistem-sistem non kebahasaan untuk mendukung pesan kebahasaan,
maka pendekatan semiotika sebagai sebuah analisis tanda guna mengupas
pesan bahasa rupa dan maknanya layak diterapkan dan disikapi secara
proaktif sesuai dengan konteksnya.
4. Kedudukan wanita mendapat tempat yang sangat mulia dan terhormat, dilihat
dari ciri khas adat Minang kabau yang diperlakukan kepada wanita antar lain:
jika seorang ibu bersuku Piliang, maka anak yang dilahirkan baik laki-laki
maupun perempuan harus bersuku Piliang sesuai dengan suku ibunya.
Demikian pula jika seorang ibu bersuku koto atau Caniago dan lain-lain,
anak-anaknya harus bersuku sama dengan suku ibunya.
5. Maka dengan menggunakan status tersebut, Bundo Kanduang mempunyai
batas-batas yang digariskan oleh adat dalam berbuat, bertindak dan bertingkah
 111
laku. Gambaran Bundo Kanduang ini diwujudkan pula dalam pakaian adat
yang dipakai dalam upacara tertentu, yang penuh dengan lambang dan makna.
Saran
1. Struktur perkembangan bahasa rupa memiliki makna yang berhubungan
dengan kepemimpinan seorang Bundo Kanduang di Minangkabau, merupakan
dua pilar dari keberadaan adat Minangkabau yang juga merupakan identitas
masyarakat Minangkabau. Pada tahapan saran ini, diperlukan kearifan
masyarakat dalam mempertahankan eksistensi keminangkabauan, dengan
jalan menyeimbangkan identitas masyarakat itu, dimana makna, lambang dan
Adat harus tetap eksis dan digunakan sebagai pondasi pandangan hidup dalam
hal bermasyarakat.
2. Sayang sekali jika warisan kebesaran budaya dalam hal ini tidak diketahui
oleh generasi muda, khususnya pendukung kebudayaan yang bersangkutan
karena berarti kesadarannya hilang tidak mengenal dan mencintai nilai budaya
nenek moyang.
3. Struktur rupa yang terdapat pada perhisanan, motif dan pakaian adat memiliki
implikasi terhadap prilaku kehidupan masyarakat Minangkabau yang harus
dijaga dan dipertahankan.
4. Agar kebudayaan tetap terjaga, tradisi ibarat sejarah moral kepercayaan para
leluhur kita. Karena tradisi itu memuat harta kebudayaan, gagasan, bagaimana
manusia itu seharusnya hidup di zaman dahulu. Mengenal dongeng dan mitos
berarti mengenal warisan masa lampau.
 112
DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa-Putra, H.S. Tanda Simbol Budaya dan Ilmu Budaya, Makalah, Yogya
karta: Unit Pengkajian dan Pengembangan Budaya. 2002,
Anton Bakker. kosmos Ekologi Filsafat Tentang Kosmos Sebagai Rumah Tangga
Manusia. Yogyakarta: kanisius.1995
Barthes, Roland. S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang, 1974
Berger, Arthur Asa. Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Penerjemah M.
Dwi Marianto dan Sunarto. Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana, 2000.
Dick Hartoko. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,1982.
Djoko Pradopo.Yogyakarta: Tanda Simbol Budaya dan Ilmu Budaya Penerbit Gadjah
Mada University Press, 1985.
Dyah Kartikawening. Publik Space Dynamic in Minangkabau Rular Area.
“University of Cincinnati. Cincinnati, OH. 2006,
Eco, Umberto. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press. l979
Ernst Cassirer. Manusia dan Kebudayaan Sebuah Essai Tentang Manusia. Jakarta:
PT. Gramedia. 1987.
Gunawan, Restu. Mohamad Yamin dan Cita-cita persatuan. Yogyakarta: Penerbit
Ombak. (2005),
Hoedoro Hoed, Benny. ‘’Dampak Komunikasi Periklanan, Sebuah Ancangan dari
Segi Semiotik’ ’ . Jurnal Seni BP ISI Yogyakarta IV/2. 111-133. 1994.
Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, hlm 24: Penerbit PT
Remaja Rosdakarya. 2000,
K. Idrus Dt. Rajo Penghulu. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di
Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV. Bandung, 1984.
Koentjaraningrat, Jakarta : Universitas IndonesiaPress
Kebudayaan Jawa, Balai
Pustaka, 1993.
 113
Koto, Ysuyoshi. Manyigi and Miigrations. Terjemahan azzizah kasim. Nasap ibu dan
Merantau. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa, 1983.
Lexy.J. Moleong.. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya M.Nasroen. 1057.Dasar Falsafah Minangkabau. Jakarta: Bulan
Bintang. 2000.
Liliweri, Alo. Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Bandung:
Penerbit PT Citra Aditya Bakti. 1991.
Mukti Ali, Ilmu Budaya Dasar, Usaha Nasional, Surabaya, 1982.
Nies Anggraeini. Bentuk-Bentuk Perhiasan Tubuh Masa Prasejarah di Indonesia.
(Estetika dalam Arkeologi Indonesia). Jakarta: Ikatan Ahli Arkeolog Indonesia
(IAAI).1987.
Noth, Winfriend. Handbook of Semiotics. Blommington and Indianapolis: Indiana
University Press.1995.
Piliang, Yasraf Amir. Sebuah Dunia yang Dilipat, Realitas Kebudayaan menjelang
Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Penerbit Mizan.1998.
Piliang, Yasraf Amir. Hiper-Realitas Kebudayaan. Yogyakarta: LkiS.1999
Saussure, Ferdinand de. Pengantar Linguistik Umum. Penerjemah Rahayu S. Hidayat.
Yogyakarta: Gadjahmada University Press, 1998.
Spradly, James, P. Metode Etnografi.Penerjemah Misbah Zulfa Elizabeth.
Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana. 1997.
Sumtoma, Yogyakarta :Metode penelitian sosial dan pendidikan, Galang Press.2000
Sumber Lain :
Sumber: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: ”
Minangkabau dan Potensi Etnik dalam Paradigma Multikultural.”

 114
DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Data Pribadi
Nama Lengkap : Mohamad Ismail
Nama Panggilan : Ismail
Tempat / tgl lahir : Jakarta, 31 Oktober 198
Agama : Islam
Kewarnageraan : Indonesia
Alamat : Jl. Semeru Raya Rt.010/010 No. 45 grogol petamburan
Jakarta Barat 11450
Handphone : 085691176045
e-mail : mail_einstein23@yahoo.com
Pendidikan Formal :
Pendidikan Terakhir : Universitas Mercu Buana S1
Program studi : Komunikasi Visual
 SMK 3 PSKD Pluit Jakarta Utara
 SLTP Negeri 274 Jelambar, Jakarta
 SDN 07 Pagi Grogol Petamburan, Jakarta
 115
Pengalaman Organisasi :
1. Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) ORIENTASI UMB, Jakarta sebagai
anggota aktif sejak 2005-2009.
 Hubungan Masyarakat (HUMAS) UKPM Orientasi UMB periode
2005-2008
 LITBANG UKPM Orientasi Periode 2008-2009
2. Forum Pers Mahasiswa se-Jabotabek (FPMJ), sebagai anggota aktif sejak
2005-2009
 Presidium FPMJ periode 2007-2009
 Ketua Kongres Forum Pers Mahasiswa se-Jabotabek (FPMJ)
 Ketua Advokasi Forum Pers Mahasiswa se-Jabotabek (FPMJ)
3. Ketua Paguyuban Mahasiswa Minang (PMM) Jakarta
4. Pendiri Komunitas Taman Hati, dalam mencanangkan sebagai ajang kajian
social, budaya, politik dan bedah buku.
5. Pengurus UKM Theater AMOEBA 2006-2007
6. Ketua Advokasi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) periode 2006-
2008
Seminar dan Pelatihan :
 Seminar Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) 2006, tingkat Nasional
 Seminar Motivasi “Achievment Motivation (AMT)” (esok penuh harapan)
2008
 Seminar Motivasi “TomorrowWill be better 09” di Jakarta
 Seminar Diskusi Interaktif “United States General Election 2008” Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar